Jumat, 06 September 2013

Cinta Kedua

Tit.. tit… Ponselku berbunyi. Ada pesan baru dari seseorang. Setelah ku lihat siapa pengirimnya, aku tidak berminat lagi membacanya. Pesan itu dari Yuna, orang yang sangat mengganggu hari-hariku. Aku bingung, dia itu bodoh atau polos atau apa. Walaupun ku acuhkan ribuan kali, dia tetap saja mencari perhatianku. Yuna, jangan menggangguku lagi. Hubungan kita benar-benar sudah berakhir.
Mataku tertuju pada selembar kertas di sela-sela bukuku. Pasti dari Yuna. Aku pun penasaran. Aku ingin membaca surat itu.
Andri,
Pernahkah kamu mencintaiku? Tak bisakah kita kembali seperti dulu? Tak bisakah kita bersama lagi?
Yuna,
Singkat sekali, pikirku. Itu bukan surat tapi coretan tangan. Apa-apaan lagi dia. Aku benar-benar kesal dengannya. Aku tidak suka diganggu seperti ini. Sekali tidak, ya tidak. Kenapa aku bertemu gadis menyebalkan seperti dia?
Tapi, aku memang pernah mencintainya. Aku pernah dibuat bahagia oleh dirinya. Banyak kenangan indah di antara aku dan dia. Walaupun begitu, semua itu bukanlah alasan untuk bersama dia lagi.
“Yuna, ku pikir lebih baik kita akhiri saja semuanya disini. Ini bukan salah kamu ataupun aku. Sepertinya kita sudah tidak memiliki prinsip dan tujuan yang sama.” Aku berusaha untuk tidak menangis. Sebenarnya aku masih mencintainya, tapi aku mencintai gadis lain sekarang. Aku tidak mau menyakitinya lebih dalam lagi. Jadi, ku pikir lebih baik jika aku memutuskan hubungan ini.
“Andri, kamu gak bercanda, kan? Apa salahku? Aku sangat mencintaimu. Tapi, kenapa kamu lakukan hal ini padaku? Sudahlah. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Kalau ini keputusanmu, terserah kamu. Aku pergi.” Dengan berurai air mata, Yuna meninggalkanku disini. Ada sekelumit kesedihan di hatiku ketika melihatnya menangis. Maafkan aku, Yuna. Aku hanya tidak ingin menyakitimu lagi. Cukup sampai disini semua luka yang ku goreskan untukmu.
Aku mengingat kembali saat itu. Sudah enam bulan berlalu. Bagaimana keadaan Yuna sekarang? Terbersit keinginan di hatiku untuk menanyakan kabarnya. Tapi, hal itu akan menambah penyesalan di hatiku. Walaupun saat ini aku mengacuhkan dia. Tak bisa ku pungkiri, di lubuk hatiku aku menyesal sudah melepaskan dia dari hidupku.
Setelah Yuna pergi, aku bersama dengan gadis itu. Aku mulai melupakan Yuna. Laura, nama gadis itu. Dia begitu berbeda dengan Yuna. Untuk sesaat, aku bisa melupakan Yuna. Tapi, hanya sesaat. Aku kecewa, aku di khianati oleh Laura. Hingga saat ini, aku pun sendiri.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Ternyata, hidupku sangat pelik. Aku merindukan seseorang di sampingku. Ada ruang kosong di hati ini. Seseorang yang sangat mengerti aku. Apakah aku merindukan Yuna? Tidak mungkin. Dia sangat mengganggu hidupku. Dia tidak pernah mengerti apa yang aku mau. Tuhan, jangan biarkan aku sendirian disini. Kirimkanlah seseorang untuk menemani hari-hariku.

Aku menghampiri ibuku di meja makan. Aku sangat lapar pagi ini. Akibatnya aku makan dengan tergesa-gesa. Beberapa kali aku tersedak. Aduh, pagi-pagi sudah kena sial. Bagaimana nanti di sekolah? Apakah akan terjadi hal buruk nanti?
“Andri, makannya pelan-pelan sayang. Nanti kamu tersedak lagi. Ini, minum dulu!” Ibuku mengulurkan segelas air untukku. Dengan cepat, ku habiskan semuanya.
“Sayang, kemarin mama ketemu Yuna. Dia baik banget sama mama. Dia nanyain tentang kamu sama mama.” Ya ampun. Gadis itu begitu menyebalkan. Apa yang dia mau? Pasti dia ingin cari perhatian dengan ibuku. “Kamu kenapa, sayang? Mama bingung, kenapa kalian berpisah? Padahal dia gadis yang baik dan sopan.” Ibuku mulai menginterogasiku. Ini bukan waktu yang tepat.
“Mama, bukannya begitu. Andri tidak mencintainya lagi. Apakah itu sudah cukup untuk dijadikan sebuah alasan?” Aku menerangkan alasan yang sebenarnya pada ibuku. Seharusnya aku juga mengatakan hal ini kepada Yuna, supaya dia tidak menggangguku lagi. Tapi, aku tidak sanggup mengatakan hal itu kepadanya.
“Astaga. Andri, kamu itu kenapa? Hal itu bukan alasan bagimu untuk berpisah sama dia. Dangkal sekali cintamu kepadanya. Mama gak nyangka.” Apa lagi ini? Kenapa ibuku yang marah?
“Mama kenapa? Kenapa mama yang marah sama aku? Mau gimana lagi? Haruskah Andri membohongi perasaan Andri sendiri?” Aku mulai menampakkan egoku. Aku tidak terlalu suka jika ibuku ikut campur masalah pribadi seperti ini.
“Mama gak marah. Mama hanya terkejut saja. Sejujurnya mama sangat menyukai dia. Dia gadis yang baik, manis dan juga sopan. Dia memperlakukan mama dengan baik, seperti ibunya sendiri. Tapi, kalau itu keputusan kamu, mama hanya bisa mendoakan mudah-mudahan ini yang terbaik. Andri, janganlah kamu menyakiti orang yang kamu cintai, karena rasa sakit itu akan kembali kepadamu. Ingat itu, sayang!” Panjang lebar ibuku menceramahiku pagi ini. Ternyata ibu sangat menyayangi Yuna. Beruntung sekali dia, dapat dukungan dari ibuku.
“Iya, ma. Andri tahu kok. Andri pergi sekolah dulu, ya. Assalamualaikum.” Aku pamit dengan ibuku. Kucium tangan ibu. Sangat lembut. Seperti tangannya Yuna. Begitu halus. Ya, Tuhan. Kenapa aku teringat dia terus? Aku harus belajar hidup tanpa dia.

“Andri, kamu baru datang, ya? Gimana kabar kamu sekarang?” Seorang anak perempuan menyapaku, Laura. Ada gerangan apa sehingga ia menyapaku hari ini? Setelah pengkhianatannya padaku kami tidak pernah berhubungan lagi.
“Emm, Laura. Aku baik-baik saja, kok. Ada apa, ya? Kenapa kamu menyapaku? What’s wrong?” Sikapnya aneh hari ini. Mungkin perasaanku saja. “Gak ada apa-apa, sih. Aku hanya ingin menyapa kamu saja. Memangnya gak boleh, ya?” Dia tersenyum padaku. Itu salah satu hal yang membuatku mencintainya. Tapi, itu dulu.
“Boleh, kok. Tapi aku mau ke kelas dulu, ya? Masih ada urusan sama teman-teman. Aku duluan, ya?” Sebelum aku melangkahkan kakiku, aku melihat sekelabat bayangan berlari menjauhi koridor tempatku berbicara dengan Laura. Itu Yuna. Kenapa dia lari? Apakah karena melihatku bersama Laura?
Sepanjang hari ini, aku pun tidak melihat Yuna sejak pagi tadi. Setelah dia lari. Kemana dia? Tapi, apa juga peduliku. Dia itu cuma bisa menggangguku saja. Ketika aku tiba di rumah, tidak ada pesan dari Yuna. Biasanya dia selalu mengirim pesan untukku. Tapi, kenapa hari ini dia tidak melakukan hal itu?
Sampai malam pun, tidak ada pesan yang masuk dari Yuna. Kenapa tiba-tiba aku merindukan dia? Aku rindu semua pesan darinya. Aku rindu saat-saat ketika aku diganggu olehnya. Apa terjadi sesuatu padanya?
Dengan hati gelisah ku buka jejaring sosialku. Aku berharap dia online malam ini. Setidaknya aku ingin melihat status-status kesedihannya itu. Yupz, kali ini aku tidak salah. Dia menulis statusnya yang terbaru.
“Dunia, haruskah aku melepaskannya? Apakah aku harus berhenti mengejar hatinya? Aku terlalu lelah untuk itu…”
Hmm, orang yang dia maksud adalah aku. Jadi, Yuna sekarang tidak mau menggangguku lagi. Oh, suatu kemajuan. Tapi, kenapa aku merindukan hadirnya? Aku merasakan sesuatu di lubuk hatiku. Rasa sedih, rasa kehilangan seperti ketika ia menangis di hadapanku. Rasa sakit ketika aku memutuskan untuk meninggalkannya. Apa yang terjadi padaku? Sesuatu yang salah telah terjadi di hidupku dan aku baru menyadarinya sekarang.

Pagi ini dengan rasa sakit yang menusuk hatiku, aku berangkat ke sekolah. Aku berharap bertemu Yuna hari ini. Aku merindukan dia.
Beruntung aku melihat dia berjalan di depanku. Aku ingin memanggilnya tapi aku terlalu takut. Yuna, berhenti! Aku ingin bicara denganmu. Tapi, itu semua hanya aku katakan di dalam hatiku.
“Yuna, tunggu!” Aku memanggil namanya. Aku berlari mengejarnya ketika ku lihat ia mempercepat langkahnya. Jadi, ia mau menghindar dariku. Hal itu tidak akan ku biarkan.
“Yuna, aku mau bicara. Tak bisakah kamu berpaling kepadaku?” Aku memintanya untuk menatap mataku. Ia kemudian berbalik dan menghadap ke arahku. Ku lihat mukanya sangat pucat. Kedua matanya sembab. Tetap saja, ia tak pernah berubah. Cengeng.
“Ada apa?” Dua kata keluar dari bibirnya yang tipis. Hanya itu yang ia katakan. Sangat singkat, pikirku.
“Aku ingin bilang sama kamu kalau aku…” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ku lihat ia kehilangan keseimbangan. Dengan cepat ku rangkul tubuhnya. Apa yang terjadi? Matanya terpejam. Apa dia akan meninggal?
Aku meminta tolong kepada beberapa siswa lain untuk membantuku membawa Yuna ke ruang UKS. Beberapa menit berlalu, tapi ia belum sadarkan diri. Yuna pingsan, begitu kata dokter yang bertugas di sekolahku. Ya, Tuhan. Jangan kau ambil nyawanya. Aku sangat membutuhkan dia.
Tak lama kemudian, ia sadarkan diri. Aku sangat bahagia. Aku betul-betul takut kehilangan dia. Aku menatap matanya. Tiba-tiba debar-debar cinta berkecamuk di hatiku. Rasanya sudah lama aku tidak merasakannya. Dia tersenyum padaku, membuat jantungku makin berdetak kencang. Ternyata, aku jatuh cinta lagi padanya. Cinta untuk yang kedua kalinya kepada dia, orang yang sama yang dulu pernah ku cintai. Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku sangat ingin bersama dia lagi.
“Yuna, maafkan aku. Sekarang aku sadar, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Maukah kau merajut cinta kita lagi?” Aku berharap-harap cemas. Aku betul-betul takut kehilangan dia. Yuna, aku janji. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku hanya akan membuatmu tersenyum seperti saat ini.
Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mau menerima aku kembali. Yuna, terima kasih. Cukup sekali aku kehilanganmu. Aku tidak akan lagi membiarkanmu pergi. Percayalah padaku, aku akan membuatmu tersenyum setiap hari. Aku berjanji. Aku jatuh cinta kepadamu untuk yang kedua kalinya, Yuna.
Kelua, 7th July 2012
Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi

My First Love

Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan. Sebab cinta tidak datang dari bibir, lidah atau pikiran, melainkan hati.
DEAR DIARY
Aku ingin merasakan cinta yang sebenarnya Aku ingin merasakan cinta pertama itu… Yaitu cinta pertama yang selalu menjagaku… yang setia padaku, Cinta pertama yang akan abadi tanpa mengalami luka… di hati
By: Alika putri V
Dengan menulis di atas kertas buku diaryku. mataku terpejam sejenak, Tanpa disadari salah satu kertas diary itu terbang dibawa oleh angin tak tahu kemana arahnya. Seraya aku membuka mataku pelan, dan terkejut akan salah satu lembar diaryku yang baru saja aku tulis sedari tadi hilang entah kemana. “loh, kemana lembar diaryku yang baru saja aku tulis?” ujarku dengan bingung dan mencoba mencari. Tapi tak ketemu juga, aku pun pasrah akan itu. aku seraya merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku.
Kertas diary yang dibawa oleh tiupan angin itu jatuh di atas muka lelaki yang sedang duduk di bangku dekat pohon mangga. “aw..” serunya dan mengambil kertas yang menutupi mukanya. “apa ini? seperti seperti kertas diary.” Ia membaca tulisan kertas itu “alika putri? mending aku simpan saja lah” ia meletakkan kertas diary itu ke dalam saku jaketnya.
Pagi telah tiba, matahari tampak memancarkan sinarnya di ufuk timur. Aku pun terbangun dari tidurku. Ku lihat bunda ku membuka jendela kamar ku “alika.. kamu sudah bangun sayang..? oh, ya.. bunda punya kabar baik buatmu” kata bunda padaku. “apa itu bun?” Tanya ku heran. Aku sungguh sedang menunggu jawaban dari bunda ku. Bunda melanjutkan “bunda sudah masukkan kamu di sekolah favorit, sayang” “maksud bunda itu SMAN TARUNA BAKTI?” tanyaku. “iya sayang” bunda mengangguk mantap padaku. “bunda serius kan? Bunda gak bohong kan?” “ngapain bunda harus bohong sama kamu sayang” aku pun merasa gembira mendengar ucapan dari bunda. Aku memeluk bundaku dengan mengucapkan “thanks for all mom. I love mom” dengan mencium pipi bundaku. “iya sayang” balas bundaku dengan tersenyum.
Keesokan harinya aku tampak bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah baru ku. Dengan memakai seragam baru, dengan atas baju putih menyertai jaket hitam dan bawahan rok mini berwarna coklat keemasan. Aku tampak siap dengan semangat 45 tuk pergi ke sekolah baru ku. aku mengambil ransel ku, dan segera berpamitan kepada bunda ku. “al, berangkat dulu bunda. Assalamualaikum” dengan mencium tangan bunda ku dan segera pergi ke sekolah.
Setelah beberapa menit akhirnya aku sampai sudah di sekolah baru ku. sampai di depan pintu gerbang, mata ku melihat sekeliling sekolah. Ternyata “wow” indahnya menakjubkan sekali. Kini tak disangka diriku bisa masuk di sekolah ini. Tiba-tiba murid-murid yang lain berlari-lari mendekati pintu pagar “ada apa sih?” Tanya ku tampak heran. Aku pun berbalik badan, dan aku melihat seseorang lelaki yang turun dari mobil mewahnya. Lelaki itu memakai kaca mata hitam keren dan berjalan seperti ke arah ku. aku menatapnya tampak tak jenuh dengan charmingnya. “wow, tampan banget lelaki itu. Gak heran semua cewek-cewek disini tergila-gila padanya.” Lelaki itu tampak mendekati ku, dan berkata “beautiful more” ucapannya ditujukan padaku. Aku kini tak menyangka dengan perkataannya itu. Sepertinya di hati ini ada rasa tak menentu entah kenapa aku bingung. Apa ini rasa cinta yang mekar di dalam dadaku. Sepertinya aku suka dengan lelaki itu. Lelaki itu melewatiku, seakan jantung ku berdetak menatapnya. “kira-kira siapakah dia?” tanyaku “dia adalah seorang anak menteri. Namanya ALVIN” ujar wanita yang ada di sebelahku. “oh, kamu sekelas dengan dia” tanyaku lagi “tidak. Dia baru kelas 1, oh ya.. kamu murid baru disini kan? Kenalin nama ku vinda. Aku anak kelas 11 – IPA 2, kalo kamu?” gumamnya. “aku alika Panggil saja aku al, aku anak baru di kelas 1″ kata ku. “oh, anak baru ya? Mungkin saja kita bisa jadi temen akrab” balasnya dengan senyuman. Aku pun mengangguk mantap “boleh saja” gumam ku.
Bel pun berbunyi “teng.. teng.. teng” tanda masuk kelas. Aku pun segera mengambil langkah 1000 untuk masuk ke kelas. Kini aku masuk di kelas 10 – 2, sebelum itu aku memperkenalkan diri ku kepada murid-murid dikelasku. “perkenalkan nama saya ALIKA PUTRI VERONICA panggil saja aku AL. Saya pindahan dari kota Surabaya, semoga saja teman-teman bisa menerima kehadiran ku disini. Terima kasih” ujar ku perkenalkan diri ku. “alika! Kamu duduk di sebelah Alvin saja iya?” bu guru menyuruh ku. aku pun duduk di dekat Alvin, tak ku sangka kini aku duduk di sebelah lelaki tampan itu.
Setelah pelajaran berlangsung istirahat pun tiba. Aku pergi ke kantin dengan membawa bekal ku. saat itu aku lihat kerumunan para cewek berlari ke arah ku. aku pun berusaha menghindar dari mereka tetapi apa daya tak bisa. Para cewek itu menabrak ku dan aku pun terjatuh. Apa lagi bekal ku nasinya berceceran di atas lantai. Aku memilih nasi yang berceceran itu dan diletakkan ke tempatnya. Seorang lelaki tampak menolongku, aku pun menoleh ke arahnya. Ternyata yang dilihat oleh ku dialah Alvin lelaki pujaan ku. “kamu tidak apa-apa” gumamnya padaku “gak apa-apa, makasih ya udah nolongin aku” senyum ku padanya. “maaf ya?” ujarnya “loh, ngapain harus minta maaf? Kamu gak salah apa-apa kok” “aku yang salah. Soalnya para kerumunan cewek itu berlari yang berusaha mendekati ku. dan menabrak mu hingga kamu jatuh seperti ini. Dan nasi mu berceceran seperti ini. Membuat mu tak bisa makan. Sekali lagi maaf?” aku terdiam tak membalasnya sebenarnya aku tahu ini semua memang salah dia. Memang dia yang membuat para cewek itu berlari berusaha mendekatinya “kok malah diam saja sih?” ketus Alvin lagi padaku. “oh, maaf. Iya aku maafin kamu” ujar ku dengan nada gugup. “thanks. Aku akan tanggung jawab untuk ini. Aku akan mengajak mu ke sebuah restoran mewah. Untuk menggantikan makanan mu yang jatuh itu. Aku mohon kamu tak menolaknya” “baik. Kalo begitu, tapi kamu yang meminta ku untuk makan disana. Sebenarnya aku gak mau ngerepotin kamu. Tapi kamu yang maksa aku” ketus ku. “iya al, pokoknya semua makanan yang kamu pesan aku traktir. Pulang sekolah nanti aku tunggu kamu di depan pintu gerbang, oke?” Alvin mencolek hidung ku dan memberi ku senyuman manisnya.
Saat jam pulang pun tiba, jam paling aku tunggu untuk berduaan lunch dengannya. Dengan gembira aku menuju arah depan gerbang ku. aku melihat Alvin yang menunggu ku disana, aku pun menghampirinya. “hai Alvin?” sapa ku, alvin hanya membalas dengan senyuman manisnya. Dan saat itu datanglah juga seorang wanita dia adalah vinda teman baru ku. “sekarang semua sudah berkumpul. Sekarang kita berangkat saja, hayooo” seru Alvin. “tunggu!” aku memberhentikan langkah mereka. Aku menunjuk ke arah vinda, “oh. Ini pacarku namanya vinda” kata Alvin padaku. Aku mendengarnya serasa kecewa. “ehmm.. ngapain diam disini kamu al? ayo masuk..!” Alvin mempersilahkan aku untuk masuk ke mobilnya. Kemudian aku pun masuk ke dalam mobil Alvin. Akhirnya kita pun berangkat.
Sesampai di tengah jalan, mata ku selalu tertuju pada Alvin dan vinda mereka terlihat bermesraan di depan ku. hati ini merasa pedih melihatnya. Semakin lama aku pun tak tahan melihatnya, akhirnya aku pun memberhentikan mobil “stooop..!!!” Alvin pun mengerem seketika dan mobil pun berhenti juga. “ada apa al?” Tanya vinda pada ku “aku mau turun disini saja” ketus ku. “loh? kenapa al? ini kan belum sampai restoran? Bukannya Alvin ngajak kamu lunch bareng kita” kata vinda pada ku. “gak usah deh, gak perlu. Aku juga bisa makan di rumah. Dari pada aku ganggu kalian, mending aku turun disini saja” jelas ku “terus kamu mau naik apa? Buat pulang..” Tanya vinda “aku bisa naik angkot kok.” Ketus ku lagi dan membuka pintu mobil, segera aku keluar dari mobil dan menaiki angkot yang berhenti. “alika! tunggu..” seru vinda “sudah lah vinda. Kita lunch saja sekarang.” Kata Alvin “tapi gimana dengan alika?” “soal itu biar aku yang urusin semua” vinda mengangguk mengerti. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.
Angkot itu pun berhenti di depan rumahku, akupun turun dari angkot dan segera membayarnya. Ku membuka pintu rumah dan segera menuju kamar ku tanpa bersalaman dengan bunda ku. di kamar aku pun menutup pintu dan merebahkan tubuh ku di atas kasur. Aku pun menangis mengingat kejadian yang tadi. Aku mengambil diary ku, aku membuka diary dan mencari lembaran yang kosong yang ingin ku tulis. Ku ambil pena ku dan perlahan aku tulis curahan hati ini di diary..
Dear Diary,
Hari ini adalah rasa bahagia ku dan rasa kekecewaan ku. saat itu ku bertemu pangeran impian ku. saat itu juga aku bertemu teman baru ku. dan di saat itu juga ku mulai merasakan apa itu cinta. Mungkin ini adalah jawaban dari tuhan untuk ku. aku bisa merasakan cinta pertama itu.. mungkin kebahagiaan itu hanya sesaat saja. Pangeran impianku itu ternyata telah mempunyai Pasangannya.. saat aku dengar dia bersama teman baru ku. hati ini merasa kecewa.. hati ini juga mengalami luka.. mungkin dia bukan jodoh ku, kini aku harus bisa melupakannya..
By: Alika Putri
Aku pun menetes kan air mata ku dan menutup diary ku. sambil ku tatap bintang di langit. Ku berkata “bulan.. bintang.. aku ingin dirinya, dan aku sungguh mencintainya. Angin.. tolong sampaikan rindu ku ini padanya” sejenak aku pun menutup mataku. Saat itu juga angin bertiup kencang..
Saat itu Alvin juga menatap langit di balkon kamarnya. Ia membuka selembar kertas diary yang ia temukan kemarin. Dengan membaca diary itu, “al, aku tau kau ingin merasakan cinta itu. Aku akan tunjukkan cinta itu seperti apa” kata Alvin. Angin pun bertiup kencang ke arah Alvin, Alvin seperti melihat wajah alika di langit itu. “kenapa jadi teringat dengan alika gini aku? Sepertinya dia kangen sama aku.” Ia menghela nafas “aku juga kangen sama kamu al” ujar Alvin. Aku membuka mataku dan kaget “di mimpiku sepertinya Alvin juga rindu padaku” aku tersenyum.
Aku merebahkan tubuhku di kasur ku. perlahan aku pun memejamkan mataku..
Aku tak tau aku berada dimana kini. Sepertinya aku berada di suatu tempat seperti taman surga yang indah. Disana aku memakai gaun seperti seorang putri. Dari arah sana aku melihat Alvin yang sedang berjalan dia seperti seorang pangeran. Dia berjalan ke arahku dan dia menghampiriku. Dia memegang tanganku dan berkata “al, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu. Kamu adalah milikku selamanya. I LOVE YOU alika!” Alvin mencium tanganku. “aku juga sayang sama kamu. Aku juga gak mau kehilangan kamu. Dan aku pun juga ingin menjadi milikmu selamanya. LOVE YOU TOO Alvin!” balasku. Tiba-tiba vinda datang, “tega kamu Alvin. Kamu telah mengkhianati cintaku. Dan kamu alika, kamu telah nusuk aku dari belakang. Teman macam apa kamu!” vinda marah padaku. “TIDAKK..!!” teriakku, akupun terbangun dari tidurku. Ternyata itu hanya mimpiku saja. “duuh.. kenapa sih, aku gak bisa ngelupain Alvin? KENAPAAA!!” aku kesal. Bunda membuka pintu kamarku “sayang, kamu kenapa?” Tanya bunda. “gak apa-apa bun” jawab alika. “kamu mimpi buruk ya sayang?” “iya bun. Mimpi alika gak enak” “ya sudah. Kamu sholat dulu sana! Biar hati kamu tenang” bunda mengingatkan ku. “iya bun”
Aku segera mengambil wudhu dan mukena dan segera aku sholat subuh. Dengan seraya aku berdoa “ya allah.. aku sungguh mencintainya. Aku ingin menjadi miliknya. Tapi bila engkau tak mengizinkan ku untuk tak bersamanya tolong jauhkan lah dia dariku. Tetapi bila dia adalah jodohku izinkanlah aku untuk mencintainya” selesai aku sholat. Aku segera mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke sekolah. Pukul telah menunjukkan 06.30 pagi. Aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Sesampai di sekolah, aku menuju ke kelasku. Hampir sampai aku ke kelas, aku tertabrak oleh Alvin. Hampir saja aku terjatuh, Alvin menolongku Aku terjatuh di pelukan Alvin. Segera aku melepas dari pelukannya “makasih” aku melangkah kan kakiku untuk menghindarinya. “tunggu!” alvin memegang tangan ku dan aku pun memberhentikan langkahku. Aku berbalik badan “apa lagi” ujarku “nih, ada sandwich untukmu. Ini aku buat sendiri, mungkin ini cukup untuk menggantikan makananmu kemarin. Aku harap kamu menyukainya. Tolong terimalah ini” alvin memberiku kotak makanan yang berisi sandwich. Aku menerimanya “makasih” aku berbalik badan dan dengan langkah cepat aku pergi dari sana. Belum sempat aku ke kelas, aku menengok ke arah kelas vinda di 11-IPA2. Aku melihat vinda yang lagi menangis dengan memegang sebuah foto di tangannya. Aku menghampirinya perlahan dan duduk di sampingnya “vinda, kenapa dengan dirimu? Kau begitu sedih begini” kataku “al, aku sama alvin sudah putus kemarin” ujar vinda dengan menahan tangisannya “hah, putus? Kenapa bisa putus sih?” aku sedikit tak menyangka “alvin mutusin aku karena dia telah mencintai wanita lain. Dia bilang kalau dia menganggap ku sebagai kakaknya saja. Gak lebih dari itu. Aku merasa sedih dan kecewa mendengarnya” vinda menjelaskan. “kenapa alvin setega itu?. Kira-kira siapa wanita yang dia cintai?” tanyaku lagi “aku tak tau. Tapi ya tak apalah! Mungkin aku bisa menerimanya. Aku harap dia bisa mendapatkan wanita itu. Dan dia bisa bahagia dengannya” gumam vinda dengan menghapus air matanya. Aku berpikir, siapakah gerangan wanita yang alvin cintai? Mungkinkah dia akan mencintaiku? Atau mungkin dia mencintai orang lain selain aku? Ya tuhan.. semoga inilah jawaban darimu. Aku masih bisa ada kesempatan untuk memilikinya. Tapi disisi lain dia adalah mantan vinda. Aku juga tak mau melukai dan menghianati vinda. Ya tuhan.. apa yang harus aku lakukan?. Aku tercengang “alika! Alika!” vinda memanggilku dan segera aku tersadar “eh.. egh.. iya apa?” jawabku gugup. “kau kenapa? Sepertinya kau bengong saja dari tadi. Kau lagi mikirin apa al?” tanya vinda padaku “aku tak apa. Aku balik ke kelas dulu iya?” aku segera bangun dari tempat dudukku dan kembali ke kelas.
Saat ini adalah pemilihan ekstrakulikuler di sekolah ku. terdapat bermacam-macam pilihan ekskul untuk dipilih, diantaranya ada ekskul sepak bola, basket, bulu tangkis, voli, marcingband, seni tari, seni musik, seni drama, dan fotografi. Aku memilih ekskul klub seni drama, ini karena ada alasan tersendiri aku memilih ekskul itu. Karena selain aku suka ber-acting, ruang seni drama juga berdekatan dengan ruang ekskul yang alvin pilih yaitu fotografi. Selain itu aku juga bisa melihat alvin dari dekat.
“anak-anak.. sekarang tema drama kita kali ini adalah ROMEO AND JULIET. Dan untuk peran utama yang menjadi JULIET itu adalah ALIKA. Dan kenapa saya memilih alika? Karena dia sangat pintar dalam berbahasa inggris. Dan untuk yang menjadi ROMEO saya pilih OSKAR” bu heni guru pemimpin drama menjelaskan. Hari demi hari pementasan drama akan dilaksanakan. Waktu itu aku latihan drama, aku melihat alvin yang sedang mengecat ruangan drama itu. “alvin!” panggil bu heni “iya bu?” jawab alvin. “tolong kamu gantikan pemeran ROMEO saat ini” pinta bu heni “baik bu” alvin segera memakai kostum ROMEO. Kita pun bermain dengan penuh penjiwaan acting. Tiba-tiba tak sengaja aku menginjak sesuatu di kaki ku. hampir saja aku terjatuh, untung saja alvin segera menolongku. Aku pun terjatuh di pelukkan alvin. Alvin dan aku saling menatap mata “sudah! Jangan menatap terlalu lama” cegah bu heni. Aku segera melepaskan diri dari pelukan alvin “maaf bu” seruku.
Pementasan drama berakhir sudah, dan klub drama sekolah ku mendapatkan nilai yang terbaik. Aku pun juga bangga dengan diriku sendiri, aku bisa membanggakan sekolah. Juga tak kalah dengan alvin, dia mendapat juara 1 di ajang lomba fotografi tingkat nasional dan ia juga mendapatkan juara 3 di ajang lomba basket tingkat nasional. Dan 2 minggu lagi ada lomba pementasan marcingband tingkat nasional dan sekolahku juga ikut berpartisipasi dalam lomba ini.
Saat itu aku berada di kantin, tiba-tiba bu heni menghampiri ku yang lagi menikmati makan “alika! Ibu mau bicara dengan mu” “bicara apa bu?” tanyaku penasaran. “begini, kamu tahu sendiri mayoret marcingband kita lagi ada di singapura. Apalagi kamu tahu jika perlombaan sekaligus pementasan marcingband tingkat nasional akan diadakan 2 minggu lagi. Jadi ibu minta kamu yang menggantikan mayoret marcingband sekolah. Karena ibu lihat kamu cukup mahir dalam permainan tongkat itu. Ibu mau kau tak menolak tawaran ibu” bu heni menjelaskan “saya jadi mayoret marcingband bu?” “iya al. kamu mau iya?” “iya sudah. Jika ibu yang meminta saya, saya bersedia untuk jadi mayoret” kata ku. “terima kasih al. ibu sangat berharap pada mu. Ibu pergi dulu” bu heni melangkah pergi. Aku harus bisa menjadi mayoret, aku tak boleh ke menyerah. Aku harus banyak berlatih agar akhirnya aku bisa membanggakan sekolah, batinku.
Saat itu juga aku terus dan terus berlatih bagaimana menjadi mayoret yang baik. Hari ini kedatangan murid baru, ia adalah saudara alvin. Namanya VINO anak kelas 10 – 1. Ia sama tampannya dengan alvin, anak-anak cewek juga banyak yang menyukainya. Tapi aku tak sama sekali tertarik padanya. Bagiku dia biasa saja masih jagonya alvin pangeran impianku. Saat itu aku latihan marcingband di lapangan sekolah. Juga bersamaan alvin dan saudaranya tampak mereka sedang bermain basket. “alvin dia tampak cantik sekali. Siapakah namanya?” tanya vino matanya tertuju padaku “dia alika. Teman sekelas ku juga teman sebangku ku” jawab alvin. “oh, bagus dong. Jadi aku bisa mendekatinya” “tentu saja. Kau begitu suka padanya? “iya begitulah. Dia putri pujaanku” vino tersenyum menatapku.
Setelah 2 minggu kemudian, tibalah acara perlombaan sekaligus pementasan marcingband tingkat nasional. Aku tampak berada di depan begitu memimpin barisan. Dengan trick-trick permainan tongkat ku dan tersenyum begitu bersemangat. “alvin sepertinya aku tak mau pindah dari sini” gumam vino “kau sudah beberapa kali mengatakan itu” alvin tersenyum.
Hari esok di sekolah pada saat jam istirahat aku menemukan sepucuk surat di atas mejaku. Aku mengambilnya dan membuka, ku baca surat itu…
Dear ALIKA P.V
Ku tunggu kehadiran mu di balkon sekarang. Ada yang ingin ku katakan padamu.
From: ?
Di dalam fikiran ku surat ini mungkin dari alvin. Aku segera berlari menuju balkon sekolah. Disana aku tak bertemu dengan alvin melainkan aku bertemu dengan vino. “hai alika. Akhirnya kau datang juga!” sambut vino pada ku “surat ini dari mu?” tanyaku “iya surat itu dariku. Ada yang ingin aku katakan pada mu” lanjut vino “apa itu?” tanyaku “aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?” vino menembak ku. aku terdiam tak berkata apapun itu. “kenapa kau tak jawab?” “aku… aku…” ku ragu-ragu menjawabnya “jika kau tak menjawab itu. Aku fikir kau mau menjadi pacarku” gumam vino ia mencium tangan ku. sebenarnya dari balik tembok ternyata Alvin menguping pembicaraan aku dan vino. Ia merasa sangat sedih “ya tuhan.. aku ingin dia menjadi milikku. Aku ingin dirimu tau al, jika aku juga menyukaimu” dengan meteskan air matanya.
Malam hari aku tak bisa tidur saat itu, aku memikirkan alvin juga vino. “apa yang harus aku lakukan? Aku suka sama alvin tetapi di sisi lain vino juga menyukaiku” ujarku. Setiap hari vino selalu mengantar dan menjemput ku ke sekolah. Hari itu adalah hari minggu, aku, vino, juga alvin bersantai dan menghabiskan waktu liburan di puncak. Aku duduk di tepi kolam dan vino mendekati ku. ia bermain gitar sambil menyanyikan lagu untuk ku. tetapi mataku terus tertuju pada alvin yang sedang memotret pemandangan alam. Aku mencoba berdiri dan ingin menghampiri alvin disana. Selangkah lagi ku berjalan, aku terjatuh “aww!” rintihku. Alvin dan vino segera menghampiriku “kamu tidak apa-apa al?” tanya vino. Aku hanya menggeleng “ya sudah, biar sini aku gendong dirimu” seru vino. Ia menggendong ku “akan ku bawakan tas mu” alvin membawakan tasku.
Malam hari tiba aku dan teman-teman bercanda ria. Belum sempat aku ikut menghibur, vino tiba-tiba menciumku. Alvin seperti melihatku dengan sedikit cemburu begitu. Aku hanya terdiam saat itu, pada waktu aku diantar pulang oleh vino. Sampai di rumah ku aku berkata “mulai besok kamu jangan mengantar dan menjemput ku lagi” “loh, kenapa? Apa kamu marah gara-gara aku menciummu tadi?” tanya vino “lupakan itu!” ketusku “kenapa begitu? Padahal aku ini pacarmu” gumam vino “kapan aku menjawab pertanyaan mu waktu kau menembak ku? padahal aku hanya diam saja. Bukan berarti aku mau. Karena hanya ada 1 orang di hati ku” aku berbalik badan dan memasuki rumah “alika! Siapa orang yang kau cintai itu? Siapa al?!” teriak vino namun aku tak mendengarkan teriakan vino. “alvin! Aku harap kau tak menyukai ALIKA. Karena dia yang telah membuat ku sakit hati. Aku harap kau tau itu” ujar vino kepada alvin “aku tau itu” singkat alvin dengan menunudukkan kepalanya.
2 tahun kemudian, SMAN TARUNA BAKTI merayakan murid-murid kelas 3 yang telah lulus UN. Begitu pun aku merasa bahagia saat ini. Rencana ku aku ingin menyatakan perasaan ku saat ini pada alvin. Saat itu aku tahu alvin berada di tempat kolam renang sekolah dan segera aku menghampirinya. Sesampai disana tampak ku lihat alvin sedang memotret pemandangan. Aku menghampiri dia “ada apa al?” seru alvin padaku “alvin! Ada yang ingin aku katakan padamu” kataku gugup “apa itu?” tanya alvin. Aku menghela nafasku dan sedikit memberanikan diri berkata “sebenarnya sejak dari dulu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki ku di sekolah ini aku menyukai dirimu. Dan saat itu aku tahu dirimu pacar vinda, mungkin aku bisa menerima itu. Walau rasa kecewa di hati, dan saat itu juga aku tahu kau putus dengan vinda. Diriku mungkin berfikir bahwa aku masih ada kesempatan untuk bersamamu. Apalagi saat latihan pementasan drama itu, aku terjatuh dan kau yang memapahku. Aku telah menyembunyikan perasaanku ini dan tak bisa ku pungkiri jika aku mencintaimu. Aku hanya ingin berkata ini padamu alvin” jelasku “kau mencintaiku? Tapi aku telah ada yang punya al” jawab alvin. Ku mendengarnya merasa sangat kecewa “siapa dia?” tanyaku balik “dia vinda. Aku telah balikan dengannya. Dulu ku juga menyukaimu tapi karena kau telah bersama vino. Ku fikir cinta ini gak ada artinya. Dan aku baru jadian dengan vinda seminggu yang lalu. Maafkan aku alika!” gumam alvin lagi “oh begitu! Tak apalah. Aku bisa menerima itu semua. Yang penting sekarang aku lega karena aku telah menyatakan perasaanku ini. dan semoga kau bahagia bersama vinda” gumamku. Aku berbalik badan sambil tak berhenti menangis “al! kau tak apa?” seru alvin padaku, aku menggelengkan kepalaku.
Sampai malam hari aku tak berhenti untuk menangis, selalu ku teringat masa-masa lalu di sekolah dan disaat aku merasakan cinta dan kecewa itu. Dan sama halnya dengan alvin, ia membuka diarynya. Di dalamnya itu terdapat foto-fotoku dan selembar kertas diaryku. Dan malam itu juga menghampiri rumahku, ia meletakkan diarynya di depan rumahku. “semoga kau tahu apa yang aku rasakan selama ini padamu?” ujarnya. Ia segera pergi dari sana.
10 tahun kemudian, aku kini telah sukses dengan meraih cita-citaku menjadi seorang penulis dan designer ternama di seluruh dunia. Saat itu aku menghadiri acara TV, “bagaimana alika? Kau bisa menjadi seorang yang sukses begini” tanya presenter tersebut padaku “karena dukungan orangtua dan keluarga, juga usaha dan berdoa. Dan berawal karena cinta dan selalu bersemangat untuk belajar dan mencari tahu” jawabku “alika! Masihkah kau ingat dengan diary ini? Dan kita akan pertemukan sang pemilik diary ini sekarang. Yaitu adalah PUTRA ALVIAN!” seru sang presenter. Aku menoleh ke arah belakang dan ternyata dia adalah alvin. Lelaki impianku, alvin membawa buket bunga untukku. “ini untukku?” tanyaku “iya ini untukmu” jawab alvin. Aku menerima bunganya “makasih” balasku lagi. “ehmm.. silahkan kalian duduk” kata presenter kembali. Aku dan alvin duduk, “sekarang apa yang ingin kau katakan alika pada alvin?” kata presenter itu “alvin! Aku mau nanya. Apakah?… kau telah punya partner?” tanyaku pada alvin “aku… aku… aku… aku… aku… lagi menunggu.. seseorang yang sedari dulu dia telah mencintaiku. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya di SMAN TARUNA BAKTI” ujar alvin. Aku seraya menangis dan tersenyum. “alika! I LOVE YOU! Kau mau jadi pacarku juga sekaligus menjadi pendamping hidupku selamanya?” gumam alvin “I LOVE YOU TOO! Alvin! Aku mau menjadi pacarmu juga sekaligus menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya” balasku. Alvin memelukku dan saat itu juga aku dan alvin menikah dan hidup bahagia selamanya.
THE END
Cerpen Karangan: Ayu Sisca Irianty

Ketika Dia Yang Kuharapkan Untuk Masa Depanku, Ternyata Bukan DIA

Di atas gundukan tanah merah tawa kita merekah. Dulu kita bahagia bersama, menghabiskan masa sebelum kita benar-benar serius ingin menggapai asa. Dulu berlarian tanpa alas kaki dan merebah pada lempeng bumi yang beratap langit biru adalah kegemaran kita. Aku tak pernah mengeluh atas kesederhanaan hidup yang kita jalani. Aku selalu mengingat setiap ucapan polos penuh makna mu yang memotivasiku “kita akan sulit bahagia jika kita juga sulit bersyukur”. Darimu aku belajar banyak.
Dulu tanganmu tak sungkan menggengam pada sela-sela jemariku saat diri ini tak mampu lagi mendaki. Dulu pundakmu begitu kuat menggendongku di saat aku kelelahan untuk berjalan dan kembali pulang. Dulu kamu selalu melindungiku. Sosok perkasamu tak pernah aku lupa. Kamulah pembela dari segala kegaduhan dan kejahilan anak-anak nakal yang mengusiliku. Hal lain yang aku senangi dari dirimu yaitu kamu tak pernah sombong atas kepintaran yang kamu miliki. Tak pernah malas dan angkuh dalam mengajari ulang aku setiap pelajaran IPA dan matematika yang diajari ibu guru di sekolah. Betapa itu pelajaran yang susah namun rasanya begitu mudah bagimu. Aku selalu merasa nyaman saat berada di dekatmu, dalam segala kondisi, dalam setiap keadaan. Aku bahagia.
Pernah ingat harapan dan keinginan kita? Mungkin ini hanyalah sebuah angan, namun bagaikan ikrar kita berdua yang terlontar saat kita duduk bersama di atas bukit yang menghijau. Kamu dan aku pernah punya cita-cita, kita berdua ingin menjadi dokter. Dulu kita ingin mengelilingi dunia. Dulu terselip keinginan kita untuk pergi ke negeri cokelat. Dulu kita pernah memiliki mimpi untuk membangun sebuah kerajaan. Kamulah rajanya dan aku sebagai sang ratu. Masih ada lagi berjuta harapan yang pernah kita rangkai bersama, terkandung dan diam bersahaja dalam sebuah rantai impian.
Aku dan kamu, kita selalu bahagia. Dalam canda kuselipkan cinta diam-diam. Cinta tak berucap yang aku harap dapat terbalaskan. Walaupun aku tak tau pasti kapan itu akan terjadi.
Suatu hari, aku menemukanmu sedang duduk tersenyum di bawah pohon apel.
“Aditya, kamu kok senyum-senyum sendiri?” aku mendekatimu, lalu duduk tepat di sampingmu.
Melihat kedatanganku, kamu tiba-tiba saja memelukku, begitu erat sehingga aku sedikit sulit untuk bernafas. Tapi itu menyenangkan. Kamu lalu menunjukan sebuah lipatan surat putih kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka saja. Sudah lama sekali, dan akhirnya kesampaian juga” kamu lalu tersenyum begitu lebarnya hingga sederet gigi putihmu tergambar indah.
Kira-kira apa yang membuatmu sebahagia itu? Sebuah surat? Tapi apa isinya? Apakah ini sebuah surat cinta? Apakah ini surat cintamu? Untuk aku? Apakah ini secarik kertas berisikan perasaanmu kepadaku? Aku bertanya pada gerangan.
Tanganku gemetaran membukanya. Entahlah, aku hanya berharap sesuatu yang baik.
“Be-beasiswa? Kamu dapat beasiswa!? Ke l-lua negeri?!” Aku berteriak dan tersentak kaget.
“Iya!!! Sudah lama aku mendambakannya! Aku berhasil Nania! Aku seneng banget!!” Adit lalu melompat dari tempatnya dan memelukku lagi. Namun kali ini lebih erat. Aku lalu membalas pelukan itu.
Dalam sebuah pelukan kecil aku menangis terharu. Walaupun isinya tak seperti yang aku bayangkan, namun aku sudah benar-benar bahagia dalam keberhasilanya meraih beasiswa ke negeri orang, itu pencapaian yang sangat luar biasa. Aku bahagia dalam bahagianya.
“Jadi itu berarti kamu akan pergi?” tanyaku memelas.
“I-iya..” dia sedikit ragu menjawab.
“Kapan kamu pulang?”
“Aku tak tau, mungkin 4 tahun lagi”
“Mengapa begitu lama?” aku sedikit menggigit bibirku
“Karena kita membutuhkan waktu yang lama untuk belajar”
“Tapi kamu tetap akan kembali ke sini kan?”
“Iya aku janji” dia lalu mengangkat kelingkingnya, demikian hal nya dengan aku. Kami berjanji kala itu. Untuk kembali ke tanah ini, sekitar 4 tahun lagi.
Dalam bahagia akupun bersedih. Aku berusaha menghilang dari perasaan yang mulai menggelitik semakin merajam. Namun semakin lama justru aku semakin sulit tuk bernapas dan bergerak dalam ruang hati yang terkunci oleh cinta yang bersembunyi.
Diam-diam aku menyukaimu. Entahlah, apakah sama halnya dengan dirimu ataukah justru sebaliknya? Kamu pernah berkata padaku “Kamu boleh kok anggap aku sebagai kakak kandungmu sendiri, walaupun umur kita sama”. Tapi bagiamana jika aku menganggapmu lebih? Bolehkah? Jika tidak boleh, lantas bagaimana jika semuanya telah terlanjur? Aku sudah terlanjur jatuh cinta karena hatimu. Aku selalu ingin berada di dekatmu, selalu.
Cinta itu semakin membesar dan memenuhi seluruh ruang jiwa. Aku tak berani berucap dalam jujur. Walau aku tau dimanapun kita bersembunyi cinta tetap akan menemukan kita. Tapi aku tak berharap cinta akan menemukanmu kala itu. Dan taukah kamu? Aku berhasil, aku memenangkannya! Cintaku berhasil aku sembunyikan. Cinta yang aku miliki pun tak mampu menemukanmu. Ya tentu saja karena cinta itu nampaknya tak bisa melangkah sejauh langkahmu meninggalkanku.
Aku tak pernah bersedih dan menghakimi Tuhan atas perpisahan kita. Aku justru berterimakasih kepada-Nya atas kepintaran yang telah dianugerahkan kepadamu sehingga kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri dengan standar mutu yang lebih baik. Hingga saat ini, setelah kamu pergi meninggalkan tempat kita, aku tak pernah tau kejelasan atas perasaanmu kepadaku. Tapi tak apa, aku akan menunggu dengan setia.

Setiap malam bintang menghujan langit hitam. Kelap-kelip yang selalu kita lihat bersama kini hanya mampu aku nikmati seorang diri. Aku masih mencintai tanah ini, tempat masa kecil kita yang telah memberikan berjuta kenangan. Setidaknya disinilah Tuhan pernah mempertemukan kita, walaupun di tempat ini pula kita dipisahkan.
Terlalu banyak pertanyaan berputar dan bermuara pada otakku saat ini. Kamulah tersangkanya. Kamu penyebab dari kepusingan dan kegundahan yang selalu aku rasakan. Bagaimana dengan keadaanmu? Seperti apa sekolahmu di sana? Bagaimana dengan teman-teman barumu? Bagaimana dengan hobbymu? Masih samakah? Masih ingat dengan aku? Ah.. mungkin saja kamu sudah lupa. Aku hanya kawan kecilmu yang tidak terlalu istimewa. Aku hanya seorang gadis kecil berkuncir dua yang sulit untuk mengikat tali sepatunya sendiri. Aku hanyalah seorang gadis yang suka ngambek kalau direbut permen lolinya. Aku hanya gadis kecil dengan segala sifat kekanak-kanakannya. Aku hanya gadis kecil yang menyukai warna merah muda dan boneka teddy. Aku adalah seorang gadis kecil yang tak pantas namun telah lancang untuk menyukai… dirimu. Maafkan atas kelancanganku ini.
Aku sempat menduga kamu telah melupakan semuanya, tentang kita dan tempat ini. Aku sempat mengira kejeniusan otakmu telah benar-benar membawamu pada dunia yang berbeda. Dunia tempat tinggalmu, penuh dengan kemudahan teknologi yang berisikan orang-orang brilliant. Duniamu yang baru, aku takut telah mengubah kawan kecilku yang dulu.
Tapi tidak, doktrin dan segala pikiran ngawurku yang sudah telontar sangat jauh ternyata salah. Kamu kembali pulang. Kamu kembali ke tempat kita, sayang. Aku tak ingin melepaskanmu kali ini. Tidak lagi, kamu jangan pergi lagi. Jika kau temui seseorang yang pertama kali menangis di saat kepergianmu, maka itulah aku.
“Kenapa kamu gak bilang-bilang aku dulu kalau kamu mau datang? Kan biar aku bisa siapin makanan-makanan enak. Aku udah bisa masak loh?” Aku tersenyum lebar, mengacungkan jempol kananku mantap.
“hehehe, aku cuma mau liburan aja. Aku mau memberitahukanmu sesuatu. Yah hitung-hitung mau ngasih surprise aja” Angin berhembus lembut diiringi tawa manisnya yang merekah indah.
“Surprise? Apa itu?”
“Itu artinya kejutan” Jawabnya santai.
“Oh haha. Oke Kejutan. Kamu emang udah bener-bener ngejutin aku banget. Tapi jujur aja aku seneng dengan kehadiranmu” Aku berucap dengan entengnya, tanpa menyembunyikan apapun yang ingin aku katakan.
“Haha.. eh anyway aku mau ngasih tau kamu sesuatu loh? Sesuatu yang spesial banget!”
“Apa Dit?”
“ada deh, hehe bukan sekarang”
“Ih kamu ini bikin penasaran deh. Kapan dong?”
“um entar deh aku hubungin kamu lagi”
Mungkinkah? Hal yang ingin dia sampaikan padaku itu merupakan jawaban dari penantianku selama ini? Apakah setelah 4 tahun kita dipisahkan Tuhan? Dan inikah hasilnya? Inikah takdirMu Tuhan? Benarkah? Jantungku berpacu kuat, sekuat rusa yang berlari kencang, menghindar dari busur panah.
“Hey Nania, kamu ngelihatin apa sih? Kok bengong gitu tiba-tiba. Haha masih sama aja kayak dulu, sukanya bengong wae” Aditya lalu megacak-acak pelan rambutku, sesuatu yang sangat aku sukai dari dia. aku seperti merasa… di sayang?
“Ah enggak hehe” jemariku mulai memainkan gerakannya, merapikan rambutku yang sedikit berantakan dalam frekuensi tetap selama beberapa detik.
“Oh iya besok pagi aku mau pergi ke air terjun nih”
“Kamu mau ngajakin aku gitu maksudnya?” Ya ampun pipiku jadi memerah malu.
“eh, iyah? Sebenarnya.. ada yang ingin aku tunjukan padamu disana”
“Ada apa? Kok kamu..”
“ah enggak papa, besok pagi jam 8 aku jemput kamu ya? Aku udah lupa soalnya jalan menuju kesana makanya kamu ikut aku ya?” Aditya menggaruk pelan kepalanya.
“oke hehe”
Ya Tuhan, aku tidak sabar. Sudah lama aku menanti-nantikan kesempatan seperti ini. Teman kecil yang Engkau pertemukan kembali. Betapa beruntungnya aku.
Langit berangsur-angsur menunjukkan efek tyndal. Warna biru telah tergantikan menjadi orange lalu kemudian hitam memenangkan semuanya, kembali memakan langit dan terselimut gelap malam.
Semalaman aku sulit untuk tertidur. Mengapa jam berputar sangat perlahan? Ayolah! Ingin rasanya aku menendang setiap jarum jam yang bergerak per detiknya. Agar dia semakin cepat! Agar aku bisa beremu Adit lagi, aku kangen ya Tuhan.
Sedikit demi sedikit aku terbuai jauh masuk melampaui batas alam sadar manusia. Aku tertidur.

“Nania, kok siap-siapnya lama sekali kamu? Ayo buruan, sudah di tunggu Adit di depan tuh” Bapak berteriak dari arah ruang tamu. Suaranya terdengar dengan sangat jelas sampai di kamar.
“Iya Pak, bentar lagi Nania keluar kok” Aku berusaha menyahut seruan itu.
“Ah tidak apa-apa kok pak, pelan-pelan saja” Terdengar pelan suara Aditya yang berkata kepada Bapak. Lalu keduanya tertawa.
Aku lalu keluar kamar. Memakai baju short dress biru bermotif bunga-bunga. Tidak, kali ini bajunya tidak seperti anak kecil. Umurku sudah 18 Tahun, tidak lagi berbaju short dress pink dan berkuncir dua.
Kami lalu menaiki mobil Aditya. Sepertinya dia memang telah lupa arah jalan menuju air terjun. Padahal dulu dialah kompasku, penunjuk jalan kemanapun kami ingin bepergian. Yah waktu memang memiliki kemampuan dan kekuatannya sendiri dalam mengubah seseorang, mengubah ingatan, karakter dan pola pikir, apapun itu. Sepertinya sekaranglah giliranku, penunjuk arah ke salah satu tempat favorit kami dulu. Tak heran, memang sudah cukup banyak perubahan di sini, selain akses jalan yang sudah lebih bercabang. Tapi sebenarnya tak jauh berbeda.
Sepanjang perjalanan Aditya memang sibuk menyetir dan bertanya arah padaku. Tapi ada satu hal yang sedikit mengusikku. Dia juga terlihat begitu sibuk dengan hapenya, tertawa dan tak henti mengutak-atik setiap tuts mungil itu menggunakan tangan kanan semntara tangan kirinya tetap menyetir. Aku hanya bertanya-tanya, memangnya hal menarik apa yang ada dalam kotak elektronik kecil itu?

“Akhirnya sampai! Kok rasanya jauh ya? Padahal waktu kecil dulu serasa cuma berjalan kaki lima menitan doang hehe” dia menarik napas dalam dan menghembuskan, dalam.
“Haha, itu karena kita menikmati setiap langkah kita dulu. Kita juga menikmati setiap waktu yang berlalu hingga lelah tak pernah terasa begitu nyata” iya, aku memang menikmati semuanya, terutama.. terutama saat bersama kamu Adit. Ah andai kamu tau.
“iya iya mungkin kamu benar. Setuju banget aku” dia tersenyum.
Wajahnya masih sama, tak satupun berbeda kecuali goresan pada lekukan pipinya sedikit lebih banyak dan raut wajah yang telah lebih dewasa.
Dari kejauhan terdengar suara seorang cewek yang memanggil nama Aditya. Nampak seorang cewek yang baru keluar dari sebuah mobil hitam mewah. Cewek itu cantik. Benar-benar bergaya ala cewek metropolitan. Rambutnya sepanjang pinggang, hitam lebat dan sedikit bergelombang. Kulitnya putih dan bersih. Dia memakai celana jeans selutut, kaos putih polos yang dilapisi rompi hitam dan kalung dengan leontin berbentuk hati yang setiap ujungnya seperti dilapisi intan-intan kecil dan di bagian dalamnya terdapat huruf A&N. indah sekali kalung itu. Dia berjalan perlahan, terlihat sangat anggun walaupun dengan style seperti itu di tambah lagi sepatu kets putih di kaki. Dia menggantungkan tas kecil di tangan kirinya lalu menghampiri Adit dan merangkulnya.
Aku tersentak kaget. Berani sekali cewek itu. Apakah dia… ah tidak mungkin. Aku tidak mau berpikir hal-hal yang buruk.
“A-adit..”
“Oh iya Nania, ini Nayla”
“H-hai Nayla. Aku Nania” kami lalu berjabat tangan. Tangannya lembut. Sepertinya dia tak pernah memegang benda kasar, tak mungkin.
Aku masih terpesona padanya. Dia seperti sosok cewek yang, sempurna. Dan jika aku bandingkan dengan diriku, tak mungkin kami sebanding, tak mungkin selevel, tak mungkin sama! Tak mungkin. Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Masalah kecantikan, teralu banyak cewek cantik yang pernah aku lihat di televisi walaupun dia salah satunya. Tapi, mengapa rangkulannya terlihat begitu mesra? Aditya justru membalas untuk merangkul leher panjang dan ‘wah’ nya itu. Aku cemburu! Wajahku memerah! Tidak boleh Adit! Kamu tidak boleh sedekat itu. Setidaknya kamu tidak boleh seperti itu di depanku.
Nania bodoh! Tak tau dirikah kamu? Hah, berani sekali. Memangnya ada hak apa aku ini? Aku bukan siapa-siapanya. Iya! Aku bukan siapa-siapa kamu Adit! Aku aku tak tau diri! Tapi sakit… sakit sekali.
“Nania, ada apa?” Adit menaikkan alis kanannya, memperhatikanku.
“A-ah eng-enggak kok” aku menunduk.
“Ini dia surprise yang aku maksudkan” Adit menepuk pelan pundak cewek yang bernama Nayla itu.
“Aku tunangan Adit” Nayla menggoreskan senyuman manis di bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda.
Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak. Dadaku berhenti kembang-kempis. Bola mataku hampir meloncat keluar. Lidahku kaku. Tanganku membeku. Tubuhku tak serasa lumpuh!
“Ja-jadi kejutannya…”
“iya tanggal 23 November nanti kami akan menikah. Aku ingin memperkenalkan seluruh kehidupanku dulu kepada dirinya” katanya. “Termaksud kampung halamanku, dan kamu. Pokonya semua masa kecil dan hal-hal yang mencangkup tentang aku deh! Hehe” dia lalu tertawa.
Masa lalumu. Iya benar, aku memang hanya sampah masa lalumu. Dalam tawa yang sedang menghiasi wajahmu, aku menangis. Tak ada lagi kisah indah yang aku bayangkan akan terjadi setelah kedatanganmu. Tak mungkin lagi segala hal dan kejadian kita dulu akan terulang.
Kalian lalu bermain air terjun bersama. Setiap air yang menetes, embun yang dihasilkan, tawa yang merekah, bahagia yang terlukis jelas… kalian memang sangat serasi. Aku lebih memilih duduk sendiri. Dari kejauhan aku hanya mampu melihatmu. Dari kejauhan aku hanya mampu memanggil namamu dalam diam. Dari kejauhan aku mampu mencintaimu. Hanya dari kejauhan aku mampu memandangimu. Dari kejauhan aku menangisimu. Dari kejauhan cintaku rasanya telah hanyut. Terbawa air terjun yang jatuh dari ketinggian 20 meter itu.
Tak seorangpun tau aku bersedih. Tak ada yang menyadari aku menangis. Di atas batu besar aku sandarkan kesedihanku sendiri. Percikan air terjun telah menyatu dengan air mataku, tak mungkin ada yang mampu membedakan antara mereka, baguslah. Dalam sedu aku tersenyum saat kau menoleh padaku. Tak maksud aku menghancurkan kebahagiaan kalian. Tidak. Mencintai diam-diam selalu terasa sakit. Apalagi jika orang yang kita cintai tak pernah sadar kalau kita mencintainya dan justru lebih memilih untuk mencintai orang lain. Cinta yang di pendam itu tidak lebih baik, Karena cepat ataupun lambat, cinta itu mampu membunuh mereka yang masih saja memendamnya.
Memendam cinta, sakit bukan main. Rasanya hatiku hancur berkeping-keping. Mengapa engkau harus datang lagi? Jika selanjutnya aku tau kau akan pergi dan meminang wanita lain. Mengapa aku harus jatuh cinta padamu? Mengapa aku begitu yakin pada perasaanku bahwa kamulah masa depanku? Padahal bukan! Mengapa kali ini Tuhan memberiku cobaan yang mampu menyayat perasaanku hingga ulu hati? Sakit sekali! Iya sakit! Mengapa aku harus cinta padamu? Jadi sia-siakah penantian panjang yang telah aku lakukan? Hilanglah sudah waktu berhargaku, menunggu sesuatu yang justru menyakitkanku.
Jadi jelas sudah. Aku mengerti rasanya, KETIKA DIA YANG AKU HARAPKAN UNTUK MASA DEPANKU, TERNYATA BUKAN DIA.
Cerpen Karangan: Niluh Ayu Mutiara Ariyanti

Aku Menyusulmu Sahabat

Dear my best friend, Nayla
Nay, mungkin kamu sudah melupakan aku yang sudah menjadi sahabatmu. Tapi aku tidak akan pernah melupakan kamu, sahabat. Aku tau, dengan kehadiranku disini, hanya akan membuatmu marah. Hingga suatu hari aku mendapat kabar bahwa kamu terkena penyakit kanker hati dan membutuhkan hati yang baru. Aku bersedia mendonorkan hatiku untuk kamu. Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku teringat ketika kita bermain, saling curhat, menangis bersama di Panti Asuhan ‘Kasih sayang’, hingga pada akhirnya kamu pergi meninggalkanku. Terima kasih sahabat, kamu sudah mau hadir di hidupku walau hanya sebentar, tapi aku sangat bahagia. Sampai ketemu sahabat…
Tertanda,
Layla
Tanpa terasa air mataku meleleh ke pipi merahku, Orang yang selama ini ku hina, ku usir adalah sahabatku sendiri. Aku sombong, aku jahat, aku egois dan aku menyesal. Andai kau masih hidup, aku berjanji akan kubuat kau bahagia dan aku bakalan menolak tawaran itu. Tawaran apa?
Semua berawal ketika aku ditawarin seseorang untuk diadopsi oleh sebuah keluarga. Aku tinggal di Panti Asuhan ‘Kasih Sayang’. Sebenarnya Layla duluan yang mau diadopsi oleh keluarga itu, tetapi Layla Menolak, karena ia lebih memilih tinggal di panti asuhan bersamaku. Hingga suatu hari keluarga itu mengadopsi ku, tentu saja aku mau, karena dari dulu aku ingin mempunyai keluarga seperti mama dan papa. Tidak dengan Layla, ia menatapku seolah tatapan kecewa, ia menangis dan tidak menjumpaiku di saat aku pergi dari panti asuhan.
“Tante, bolehkah aku memanggil tante dengan mama?” Tanyaku.
“Tentu sayang… nah kita sudah sampai.” Jawab mama.
“Wahhhh, mama apakah ini rumah Nayla?”
“Iya Nayla, kamarmu berada di lantai dua, komplit dengan kamar mandi, TV, dan fasilitas lainnya.”
“Makasih ma…” Seraya memeluk mama.
Hari-hari berlalu dan kini aku sudah bersekolah di ‘Girls Modeling School’. Tanpa aku sadari, sikapku yang awalnya baik, rendah hati berubah menjadi sombong dan suka pamer. Dan aku sudah tidak ingat dengan Layla.
“Permisi nona, ada surat untuk nona.” Kata bi Sum.
“Dari siapa bi.” Kataku jutek.
“Dari nona Layla.”
“Siapa itu?”
“Katanya sih, sahabat nona dulu.”
“Aku nggak punya sahabat, mana suratnya?”
“Ini nona, saya permisi dulu”
Dear sahabatku Nayla.
Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Bagaimana kabar mu? Aku disini merindukanmu bersama anak panti lainnya. Bagaimana kalau liburan nanti kamu berkunjung ke sini? Aku menunggumu
Salam hangat,
Layla.
“Layla? Siapa sih? Fans kali ya? Bodo amat, orang miskin nggak usah dipedulikan” Sambil merobek robek kertas.
Tanpa terasa setahun sudah lewat, kini Layla memutuskan untuk pergi ke rumah Nayla. Ia berharap sahabatnya senang bertemu dengannya, tetapi itu berlaku sebaliknya. Ketika Layla sudah sampai di rumah Nayla, ia mengetuk pintu rumahnya. Dan yang membukakan pintu adalah Nayla.
“Nayla…” Teriak Layla memelukku.
“Ihhh, lepasin. Kamu tuh siapa sih? Datang datang langsung meluk gak jelas. Apa urusanmu kesini?” Bentakku.
“Nayla, kok gitu sih? Aku ini sahabatmu Layla. “Katanya kaget.
“Sahabat? Eh, dengar ya, aku tidak tau kamu, dan tidak akan pernah mau tau. Dan ingat aku bukan sahabatmu.” Sambil membanting pintu.
“Nayla, kamu sudah berubah. Tidak seperti dulu. Bahkan kamu tidak mengingatku. Hiks” Tangis Layla meninggalkan rumahku.
“Dasar gembel” Kataku.
Hari-hari berlalu, dan aku sering sekali sakit-sakitan. Mamaku membawaku ke rumah sakit terdekat. Dokter bilang aku terkena penyakit kanker hati dan harus mendapatkan donor hati. Mama dan papa tidak sanggup mendonorkan hatinya karena sudah tua. Lalu papa membuatkan iklan untuk mendapatkan donor hati dan hadiahnya 10 juta.
Setelah tiga hari berturut-turut, akhirnya ada yang mau mendonorkan hati, tetapi anehnya orang itu tidak mau diberi 10 juta. Orang itu ikhlas mendonorkan hatinya buat Nayla.
Aku pun berhasil di operasi, kini aku bisa hidup kembali dan menjalani hidupku dengan tenang.
“Mama, papa siapa sih yang mendonorkan hati buat aku?” Tanyaku.
“Nggak tau namanya sayang, karena orang itu tidak mau menyebutkan namanya”
“Oh” Jawabku singkat.
Hingga akhirnya aku mendapatkan surat dari Layla (isi suratnya ada di baris pertama di atas.)
Aku membacanya satu per satu kata dengan hati yang sedih. Ternyata Layla lah yang mendonorkan hatinya buat aku. Jadi selama ini Layla memang sahabatku. Ingin rasanya aku teriak sekeras mungkin, dan itu pun aku lakukan di kamarku. Aku menangis sejadi jadinya, aku menyesal, aku egois terhadap sahabat yang selama ini telah ku lupakan. Dia rela berkorban demi aku bahagia. Layla andai kau masih hidup, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku akan menyusulmu Layla.
Aku pun telah melayang bersama Layla, aku melihat Nisan ku berjejeran denga Layla, aku juga melihat banyak orang menangis sedih, tetapi aku telah bahagia bersama Layla.
Cerpen Karangan: Aisy Nadira Permata

The End Of My Life

2856 hours 1440 minutes maybe the rest of my time in this world.. I actually sincere God even I remain grateful for all of this, but there is not yet find.. I am still looking for anyone.. real family.. please God, give me the time again God until I had finished all my work.. I pray the Lord.. amin..
Entah bagaimana lagi caranya agar aku bisa menemukannya.. petunjuk, yang aku butuhkan hanya itu.. tapi bagaimana caranya? semoga besok pagi semuanya akan terjawab..
“sayang bangun..”
“hmm.. aku masih ngantuk..”
“emang kamu tidur jam berapa tadi malam sayang?”
“aku lupa wekk..”
“kamu ini.. jangan di biasakan tidur malam-malam..”
“kamu bawel sayang.. aku mandi dulu..”
“ea sayang..”
Ku lihat dia keluar dari kamarku.. Erick namanya, dia adalah pacarku.. pacar yang paling sempurna dalam hidupku.. sudah 1 tahun aku pacaran dengannya.. 1 tahun lagi dia akan melamarku.. begitulah katanya, dan aku percaya padanya namun aku tak percaya pada diriku sendiri.. mungkin semua itu hanya mimpi yang semu.. mimpi yang tak akan pernah aku gapai sampai kapanpun..
Setelah aku mandi aku bergegas keluar dan menuju ruang makan.. ku lihat Erick sedang ngoborl dengan mami.. mami sangat setuju hubunganku dengan Erick.. mami juga berharap aku dan Erick bisa secepatnya menikah.. aku juga ingin namun aku rasa semua itu hanya anganku..
“kenapa kamu termenung di situ Andra? sini ayu kita sarapan bareng..”
“iya mami..”
Tidak berapa lama kulihat papi juga menghampiri kami.. dengan canda tawa kami pun menikmati menu sarapan yang sudah di siapkan mami.. keluarga yang hangat, aku Bersyukur pada Tuhan.. benar-benar bahagia.. meski ada 1 yang kurang.. 1 yang sedang aku cari saat ini..
Usai sarapan, Erick dan papi pergi ke kantor sementara aku memilih untuk diam di rumah.. Erick pacarku adalah pemegang saham di keluarga papi.. karena kantornya sama maka Erick sering sekali berangkat bersama papi.. biasanya aku ikut, namun sudah 2 minggu ini aku memilih untuk tidak ikut.. ada tugas yang harus aku selesaikan..
Ku lihat mobil Erick dan papi sudah melaju jauh, aku pun mengendarai mobilku menuju ke salah satu tempat.. sebuah komplek..
“maaf bu, boleh numpang tanya.. alamat ini di mana iya bu..”
“oh kamu terus saja lalu belok kiri jika ada persimpangan..”
“terima kasih bu..”
Ku lajukan lagi mobilku.. sesampainya aku di sebuah rumah, aku turun dari mobil dan memencet bel yang ada di pagar.. keluarlah seorang bibi, mungkin itu pembantunya..
“maaf cari siapa ya?”
“bibi.. benarkah ini rumah ibu Syiah?”
“iya benar, tapi beliau sedang ada di luar negri..”
“kapan ibu Syiah pulang bi?”
“mungkin 2 minggu lagi.. ada apa neng?”
“saya ingin bertemu dengan ibu Syiah.. ada yang mau saya tanyakan.. bibi bolehkah saya minta tolong, ini kartu nama saya dan di bawahnya ada nomor hp saya, bila ibu Syiah pulang, tolong hubungi saya karena ini sangat penting..”
“baik neng..”
“terima kasih bi.. saya permisi dulu..”
Kembali ku lajukan mobilku dan menuju kantor papi.. sesampainya di kantor papi, aku menuju ruangan Erick, ternyata papi dan Erick sedang ada di ruangan meeting.. karena aku tak mau menganggu meeting mereka, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kantor..
Ternyata sejuk juga udara di sini.. tidak salah papi mendirikan kantor di sini.. selama ini aku kebanyakan sibuk dengan urusan kantor.. baru pertama kali aku jalan-jalan di sini sudah betah rasanya.. begitu indahnya kehidupan di luar.. selama ini aku hanya mementingkan kehidupanku saja.. Tuhan, mohon beri aku petunjukMu untuk menemukan yang sebenarnya..
Beberapa lama kemudian handponeku berdering..
“halo..”
“halo sayang kamu di mana?”
“kamu sudah selesai? aku akan segera menuju kantor..”
“iya aku tunggu sayang..”
Aku langsung menuju kantor.. sesampainya di kantor aku segera menemui Erick.. dan kemudian aku, papi dan Erick pergi makan siang bersama..
1 minggu telah berlalu, namun belum juga ada telpon dari ibu Syiah.. aku begitu ingin bertemu, hanya dia satu-satunya jalan untuk membantuku.. Tuhan, permudahkanlah langkahku..
Ku lihat jam dindingku, ternyata sudah menunjukan pukul 13.23 wib.. aku langsung bergegas mandi dan ku ambil kunci mobilku.. aku menyetir mobil kesayanganku.. ku tuju sebuah jalan menuju Gereja.. aku ingin ke sana, mungkin setelah aku berdoa di sana hatiku akan jauh lebih tenang.. sesampainya di Gereja, aku langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Gereja..
‘Tuhan, apa yang harus aku lakukan.. aku tak mungkin terus menunggu, tak mungkin membiarkan waktu terus berjalan tanpa hasil.. bantu aku Tuhan, permudahkan aku.. aku mohon Tuhan, aku hanya ingin menemukan yang sebenarnya sebelum aku kembali padaMu.. bukan maksudku tak mensyukuri keadaan ini Tuhan, aku bahagia Engkau memberiku keluarga yang hangat.. namun aku juga butuh kebenaran itu Tuhan.. aku hanya ingin melihatnya dan mempertanyakan semuanya pada dia..’
Ku buka tasku, ku raih lembaran kertas yang aku dapatkan sekitar 1 bulan yang lalu.. ku dapat kertas itu dari seorang dokter di Rumah Sakit milik keluargaku sendiri.. hanya sebuah lembaran surat yang terdapat beberapa huruf abjad di dalamnya, menurut orang lain ini tak berarti, isinya tak penting.. namun bagiku isi di dalamnya benar-benar membuatku takut.. aku sedih, aku kecewa, tapi aku bisa apa.. aku hanya milik Tuhan, aku hanya anakNya.. aku tak punya Kuasa apapun untuk menyalahkanNya.. aku ikhlas dan aku siap menjalankan semuanya.. ku pejamkan mataku dengan iringan tetesan air mata setelah melihat tulisan ‘kanker otak’ di lembaran surat itu, waktu yang tak banyak untukku tetap tinggal di dunia ini.. maafkan aku Tuhan jika aku harus menangis, bukan berarti aku tak bisa menerimanya.. hanya saja aku takut melukai orang-orang yang aku sayang.. aku takut mereka menangis jika mereka tau keadaan aku yang sebenarnya.. dalam ingatanku, ku ingat sebuah perkataan dokter tentang umurku, dan tentang penyebab sakitku ‘faktor genetik’.. setelah aku mencari informasi tentang seluruh keluargaku, namun tak 1 pun dari mereka yang pernah mengalami hal yang sama denganku.. tadinya aku mengira bisa saja karena faktor lain, namun setelah aku mengambil beberapa helai rambut mami dan papi, diam-diam aku melakukan test DNA.. namun ada yang ganjil.. aku di nyatakan bukan anak mereka.. lalu siapa aku? aku ingin langsung menanyakan ini semua pada mami ataupun papi namun aku takut melukai hati mereka.. mereka begitu menyayangiku.. mana tega dan mana mungkin aku bisa menyakiti mereka.. aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin tau kebenarannya.. Cuma kebenaran.. maafkan keegoisanku ini Tuhan, tapi ini hanya sebuah permintaan kecil ku, permintaan terakhirku sebelum aku kembali padaMu.. beri aku jalan yang mudah Tuhan..
Usai berdoa dan curhat kepada Tuhan, aku segera meninggalkan Gereja itu.. aku mendekati mobilku, saat aku membuka pintu mobilku..
“dasar manusia kotor, pergi sana.. jangan mendekati warungku..”
Ku lihat seorang ibu mengusir anak kecil yang kira-kira berumur 8 tahun.. hanya karena pakaiannya yang kumuh, ibu itu mengusirnya.. aku langsung mendekati anak kecil itu..
“ibu.. jangan menilai orang lain hanya dari penampilannya.. jika hanya pakaiannya saja yang kotor, bukan berarti dia manusia kotor..”
“jika dia terus-terusan di sini bisa-bisa daganganku gak laku..”
“rezeki ibu sudah di atur Tuhan bu.. ibu tak bisa menyalahkannya.. iya sudah saya beli kue-kue ibu beserta 1 minuman.. ini uangnya dan ambilah kembaliannya.. terima kasih bu..”
“adik kecil, ini ambilah..”
“terima kasih kak..”
“segera pulanglah ke rumahmu, aku tak ingin ada orang lain lagi yang menghinamu dan ambilah uang ini..”
“terima kasih kak, semoga Tuhan membalas kebaikan kakak..”
“sama-sama dik..”
“untuk apa kamu memberikan padanya, apa kamu sudah kaya? sudah banyak uang?” kata ibu yang berjualan kue dan minuman itu lagi padaku
“maaf bu, saya memberikan padanya bukan karena saya kaya.. namun saya tau bagaiman rasanya jika tak punya?”
Aku langsung meninggalkan ibu itu tanpa mau mendengarkan jawabannya.. dalam hatiku, Tuhan maafkan aku jika kata-kataku tadi tak pantas aku lontarkan pada orang yang usianya lebih tua dariku, namun hatiku tak sanggup membiarkan seorang anak kecil tak berdosa di sebut manusia kotor seperti itu hanya karena penampilannya..
Aku mengendarai mobilku, tiba-tiba di perjalanan menuju rumahku.. ku dengar hpku berdering, aku pun langsung mengangkatnya..
“halo..”
“iyah halo, benar ini dengan Andrayani?”
“iya bu, saya sendiri.. maaf ini dengan ibu siapa?”
“dengan ibu Syiah..”
“Puji Tuhan, ibu sudah kembali bu?”
“iya dik, saya baru saja sampai di rumah..”
“kalau begitu bolehkah saya bertemu dengan ibu?”
“silakan saja..”
“sekarang saja akan langsung menuju rumah ibu..”
“baik dik, saya tunggu..”
Ku lajukan mobilku, dalam hatiku berkata ‘Terima Kasih Tuhanku’.. dan akhirnya aku sampai di rumah ibu Syiah.. aku segera turun dari mobil dan aku membuka pagar rumah ibu syiah, dan masuk ke dalam rumahnya..
“ibu syiah..” sapaku pada seorang perempuan yang mungkin usianya 20 tahun lebih tua dariku
“iyah.. ada apa mencari saya dik.. ayu sini masuk..”
“terima kasih bu.. ibu sebelumnya saya ingin bertanya, apa ibu pernah bekerja di Rumah Sakit Yani?”
“iya saya pernah bekerja di sana sebelum saya menikah.. sekitar 15 tahun yang lalu..”
“berapa lama ibu bekerja di sana bu?”
“saya bekerja di sana selama kurang lebih 13 tahun dik..”
“lama juga bu..”
“iya dik.. jika tidak karena suami saya mungkin sekarang saya masih bekerja di sana.. tapi kenapa kamu menanyakannya?”
“ibu, apa ibu tau tentang seorang bayi yang lahir 25 tahun yang lalu?”
“maaf dik, itu sudah cukup lama.. saya tidak mungkin mengingat semuanya..”
“ibu maafkan saya, saya hanya minta tolong ibu mengingatnya.. saya butuh informasi itu bu..”
“informasi apa dik?”
“apakah ibu mengenal Ratyani?”
“iya saya mengenalnya nak, beliau adalah pemilik Rumah Sakit tersebut dan beliaulah yang mengontrol keadaan Rumah Sakit..”
“lalu apakah beliau pernah melahirkan seorang gadis 25 tahun yang lalu bu?”
“melahirkan? saya rasa tiii… maaf dik ada apa dengan beliau?”
“saya adalah anak beliau bu.. tapi saya meragukannya, tidak bukan meragukan tapi saya hanya ingin mengetahui kebenarannya..”
“lalu apa hubungan dengan saya? kenapa adik tak langsung bertanya pada beliau..”
“saya takut menyakiti beliau bu.. saya tidak tega.. saya terus mencari tau, dan saya sempat membuka dokumen Rumah Sakit untuk mengetahui semuanya, yang saya dapatkan hanya nama perawat yang menjaga saya yaitu nama ibu.. namun tidak dengan nama beliau bu.. harusnya di dokumen itu tertulis nama mami saya dan di ruangan mana mami saya di rawat, tapi kenapa hanya nama perawatnya bu.. tolonglah saya..” air mata kembali membasahi pipiku
“maaf nak saya sudah lupa..”
“ibu tolong jangan lupa bu.. tolong ingatlah semuanya bu.. hanya ibu yang bisa membantu saya.. saya mohon bu..”
“dik, sebelumnya saya ingin bertanya.. untuk apa adik meragukan beliau, apa beliau kurang menyayangi adik?”
“ibu jujur.. beliau sangat baik, mami sangat menyayangi saya dan tak pernah sedikitpun mengabaikan saya.. namun saya tak mungkin membiarkan sebuah kebenaran tetap bersembunyi dalam hidup saya.. saya tak punya waktu yang lama bu, tak punya banyak cukup waktu untuk membiarkan kenyataan itu tak di temukan bu.. bantu saya bu..”
“saya tak bisa dik..”
“kenapa bu? apa salah jika saya mengetahui semuanya? apa salah jika saya mencari jati diri saya yang sebenarnya? hanya ibu yang bisa membantu saya bu.. hanya ibu.. tolonglah bu..”
“lebih baik adik bertanya langsung pada beliau, saya tak mau mengecewakan beliau karena beliau sudah sangat baik pada almahrum ibu saya..”
“apa ibu sudah janji pada mami saya agar tak menceritakan yang sebenarnya kepada siapapun?”
“hmm..”
“lalu ibu tak akan menceritakannya pada orang yang tak punya hidup lebih lama lagi?”
“apa maksud adik?”
“tak ada waktu yang cukup untuk saya bu.. hanya ibu satu-satunya jalan saya.. saya hanya ingin bertemu dengan keluarga kandung saya bu sebelum saya pergi dari dunia ini.. saya hanya ingin bertemunya walaupun 1 kali bu.. walaupun dari jauh.. saya hanya ingin itu bu..”
“maksud adik.. adiik…”
“iya bu, saya menderika kanker otak dan saya sudah di vonis 4 bulan lagi bu.. jika di hitung dari awal saya menerima surat itu, waktu saya tak sampai 4 bulan penuh lagi bu.. sudah berkurang.. dan 1 informasi pun belum saya temukan bu..”
“maafkan saya dik..” ibu itu juga ikut menangis
“terima kasih banyak untuk waktunya bu.. saya tau ibu telah berjanji dengan mami.. saya tak akan memaksa ibu karena saya tau janji itu adalah utang.. saya mohon pamit, dan maafkan saya telah menganggu ibu..”
Aku langsung berdiri dari kursi dan segera berjalan keluar.. perasaan kecewa, sedih namun aku tak bisa memaksanya.. Tuhan, aku pasrah.. aku tak tau harus bagaimana lagi.. tak ada yang bisa membantuku yang tak berdaya ini..
“dik.. kembalilah..”
Aku menoleh ke belakang dan aku kembali duduk di kursi.. ibu itu langsung memelukku..
“maafkan saya dik..”
“ibu tak perlu meminta maaf.. ibu tak bersalah..”
“berjanjilah pada saya, setelah saya menceritakan semuanya pada adik.. adik akan tetap semangat..”
“iya bu saya berjanji..”
“25 tahun yang lalu, ada seorang perempuan yang akan melahirkan.. ibu itu tadinya akan melahirkan di rumahnya dengan bantuan tetangganya namun tak bisa, darah yang di keluarkannya sangat banyak hingga dia di larikan ke Rumah Sakit.. setelah 3 hari menjalani perawatan, ibu itu meminta salah satu suster yang bertugas di rumah Sakit yaitu saya agar merawat bayi itu.. namun saya menolaknya karena saya tak sanggup.. akhirnya saya memberitau pada ibu Ratyani dan beliau langsung bertemu dengan ibu itu.. ibu itu meninggalkan bayi itu pada beliau dan meminta agar beliau menjaganya juga merawatnya.. ibu itu tak punya biaya untuk merawat bayinya karena keadaan ekonominya, ibu itu adalah seorang janda, suaminya baru 3 bulan meninggal sebelum ibu itu melahirkan.. sementara ibu itu hanya mengumpulkan kepingan barang bekas di jalanan.. ibu itu tak yakin bisa memberi asupan yang cukup pada bayinya.. namun ibu Ratyani tidak menolaknya, karena ibu Ratyani di vonis tidak bisa mempunyai keturunan lagi.. ibu Ratyani juga meminta ibu itu agar tinggal bersamanya, namun ibu itu menolak.. begitu juga saat di minta untuk sering mengunjungi bayi yang dia lahirkan.. tidak mengerti alasannya apa.. begitu ceritanya nak..”
“bayi itu adalah saya kan bu?”
“iya dik..”
“lalu apa ibu ingat siapa nama ibu saya?”
“nama kamu siapa dik? Andrayani siapa dik?”
“Andrayani Irs Putri Dros bu..”
“Irs.. itu adalah nama ibu kamu dik..”
“lalu apakah ibu tau di mana ibu saya tinggal?”
“jembatan 4 dik.. tapi saya tidak tau apa beliau masih tinggal di sana atau tidak..”
“terima kasih bu untuk semuanya.. terima kasih ibu telah membantu saya, dan mohon bu jangan ceritakan semuanya dengan mami saya.. jika nanti waktunya sudah tepat saya berjanji akan langsung menceritakannya..”
“iya dik..”
“terima kasih bu, saya pamit..”
“baiklah dik..”
Tak ingin membuang waktu, aku langsung bergegas menuju jembatan 4.. memang sangat jauh menuju ke sana, butuh waktu 5 jam, beliau sangatlah kuat.. di saat akan melahirkanku beliau mengalami pendarahan hebat namun beliau bisa bertahan padahal perjalanan menuju rumah sakit sangat jauh.. tapi mungkin dulu tak semacet sekarang.. yang pasti aku bersyukur pada Tuhan, Tuhan menjaga ibuku..
Hari sudah semakin sore, butuh waktu 1 jam lagi aku sampai.. namun di perjalanan ban mobilku kempes, aku terpaksa turun.. syukurnya mobilku berhenti tepat pada tambal ban.. sambil menunggu tukang tambal ban menambal ban mobilku, aku mengetik sebuah sms pada pacarku dan mengatakan aku tak bisa pulang dan menginap di luaran, aku memintanya untuk mengatakan pada mami dan papi.. bukan aku tak mau menelponya langsung namun baterai hpku sudah low.. tenggorokanku pun mulai kering, perutku keroncongan dan sudah saatnya aku harus minum obat.. namun aku tetap bersabar menunggu ban mobilku selesai di tambal..
Beberapa lama kemudian akhirnya penambal ban telah selesai menambal ban mobilku.. aku langsung naik ke mobil dan melajukan mobilku.. aku melihat ke kiri dan ke kanan, dan ternyata di dekat persimpangan ada sebuah cafe.. aku mencari parkiran mobil, setelah ku dapatkan aku pun langsung bergegas turun dan memasuki cafe itu..
Aku memesan makanan dan minuman sesuai seleraku.. tak ku ingat lagi perkataan dokter tentang makanan apa yang tak boleh ku makan.. setelah makanan datang, aku langsung menyantapnya dan setelah selesai aku kembali melanjutkan perjalanan ku menuju jembatan 4.. sebelumnya aku belum pernah ke sana namun aku tak pedulikan itu.. yang terpenting aku bisa menemukan beliau, iya ibu kandungku.. ibu yang telah mengandungku selama 9 bulan dan melahirkanku ke dunia ini.. meski beliau tak membesarkanku, namun aku tak berhak membencinya.. oh Tuhan, ingin rasanya aku segera menemukannya.. aku ingin memeluknya.. meski nantinya dia tak menginginkanku namun 1 kali terakhir dalam hidupku bisa bertemu dengannya dan memeluknya itu sudah cukup bagiku.. pertemukan kami Tuhan..
Dan akhirnya aku sampai ke jembatan 4.. namun aku tak memakirkan mobilku di daerah itu karena tidak jauh dari daerah itu ada sebuah penginapan, aku memesan kamar dan ku tinggalkan mobilku di parkiran.. setelah itu aku berjalan kaki menuju jembatan 4.. perlahan ku langkahkan kakiku diiringin doa..
Iya Tuhan, tempat ini.. tak pernah aku duga.. tempat yang dipenuhi sampah.. Tuhan apa mungkin beliau bisa nyaman tinggal di tempat ini, sementara aku selama ini tinggal di tempat yang sangat nyaman.. aku harus menemukannya dan harus.. 1 per 1 ku tanyai bebarapa orang yang kulihat ketika aku melitasi mereka, namun tak ada yang mengenalnya.. kemana harus aku cari beliau Tuhan, tolong aku.. air mata mulai menetes membasahi pipiku.. sudah 15 menit aku berjalan namun tak ada 1 pun yang mengenalnya, kepalaku mulai pusing.. mungkin karena kurangnya istirahat.. namun aku tak boleh putus asa, aku harus kuat, aku harus bersemangat.. tetap ku langkahkan kakiku dan akhirnya aku benar-benar lelah, kepalaku sangat sakit.. aku menyandarkan tubuhku pada sebuah pohon yang sangat besar.. aku ingin seperti kamu pohon.. tak beberapa setelah aku duduk di bawah pohon itu ada seorang ibu yang menghampiriku..
“maaf nak, kamu siapa?”
“saya Andra bu, saya sedang mencari seorang ibu yang namanya ibu Ish.. apakah ibu mengenalnya?”
“oh ibu Ish.. iya saya mengenalnya..”
“bolehkah ibu mengantar saya ke rumah beliau?”
“oh baiklah nak..”
“terima kasih bu..”
Aku mengikuti langkahnya, aku berharap bisa segera sampai.. tak ku hiraukan lagi kelelahan yang ada di tubuhku.. Tuhan kuatkan aku..
“ini rumahnya nak..”
“iya bu.. terima kasih bu.. dan ini bu untuk ibu karena telah membantu saya..”
“tidak nak terima kasih, saya ikhlas nak..”
“ambillah bu..”
“tidak nak.. saya permisi dulu..”
Ternyata masih ada orang seperti mereka yang berhati mulia, menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalannya.. Tuhan berilah rezeky kepada ibu itu.. amin, hanya itu yang bisa aku berikan pada ibu itu.. sebuah doa
Ku pandangi rumah yang aku tuju itu.. hanya dari kardus-kardus bekas, atapnya hanya seng-seng yang berkarat.. iya Tuhan, seperti inikah tempat berteduhnya ibu kandungku? perlahan aku mendekati pintu rumah kardus itu..
“syalom.. permisi..”
Namun ku dengar jawaban dari seseorang, iya dari perempuan.. mungkin itu ibuku..
“iya, maaf nyari siapa iya?”
“benarkah ini rumahnya ibu Ish?”
“iya benar dan saya …”
Namun rasanya kepalaku sangat sakit, aku tak kuat lagi memandang.. akhirnya aku jatuh pingsan.. aku tak bisa mendengarkan suara apapun lagi, gelap semuanya gelap.. oh Tuhan, jangan ambil aku dulu, aku mohon beri aku waktu lagi Tuhan.. tolong..
Pagi harinya
Perlahan aku membuka mataku, terasa sangat pusing tapi aku mencoba kuat.. tidak lupa aku berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan masih memberiku waktu.. aku beranjak dari tempat tidurku, ku pandangin semua yang ada di depanku.. tempat ini, rumah ini, ya Tuhan.. aku meneteskan air mata.. aku mengusap setiap tetesan air mata yang jatuh, aku mendengar ada suara dari arah belakang dan aku segera menuju di mana asal suara itu.. kulihat seorang perempuan tua sedang memasak.. air mata itu kembali jatuh, ku pandangi dirinya.. kaki kirinya tak sesempurna kakiku.. matan kanannya tak sesempurna mataku.. oh Tuhan, sebegini menderitanyakah beliau? selama ini aku enak-enakan ternyata beliau?
“pagi nak.. apa kamu sudah enakan.. ke sini nak, ibu sudah buatkan teh manis hangat untukmu.. mungkin bisa memberikan sedikit tenaga untukmu.. maaf jika Cuma seadaanya nak..”
Aku menghapus air mataku..
“terima kasih bu.. ini sudah cukup..”
“apa sudah manis nak ataukah masih kurang?”
“tidak bu.. ini sudah cukup..”
Pertama kalinya aku mencicipi minuman yang beliau buat kepadaku.. aku senang, aku bahagia Tuhan.. ingin rasanya aku langsung mengatakan apa tujuanku datang menemuinya namun aku takut dia tak bisa menerima kehadiranku.. aku tak mau membuat suasana yang indah ini menjadi hancur tak berarti..
“ibu.. bolehkah aku tinggal lebih lama di sini.. atau beberapa hari saja..”
“boleh nak.. tapi untuk apa?”
“maaf bu, aku hanya ingin mengetahui kehidupan di luar bu..”
Terpaksa aku berbohong.. maafkan aku ibu, maafkan aku Tuhan.. tapi cepat atau lambat aku pasti akan jujur padanya..
“boleh saja nak, tapi maaf jika seperti inilah keadaannya..”
“terima kasih bu dan aku bisa menerima semuanya bu..”
“setelah memasak saya akan pergi bekerja nak..”
“ibu bekerja di mana? bolehkah saya ikut?”
“jangan nak.. nanti tubuhmu jadi kotor, sayang sekali pakaian bagusmu jika terkena kotoran dan debu nak..”
“ini hanya pakaian biasa bu, tak seindah yang terlihat.. mungkin akan lebih bagus, indah jika seorang ibu kandung kita yang menyulamnya sendiri..”
“tapi itu harganya pasti mahal nak..”
“tidak bu, harga suatu barang bisa sangat tinggi nilainya jika orang yang membuat barang tersebut sangat berarti dalam hidup kita..”
“kamu pintar nak.. baiklah jika kamu ingin ikut..”
“terima kasih bu..”
“tapi kamu harus makan dulu, biar kamu ada tenaga..”
“iya bu, aku ingin sekali makan masakan ibu.. pasti lezat..”
“hanya tempe nak..”
“tapi kelihatannya lezat sekali bu..”
“ayu bu kita makan bersama..”
Tak lagi kuhiraukan apapun, aku bahagia bisa makan bersama ibu kandungku sendiri Tuhan.. ku lihat senyuman di bibirnya.. cantik, wanita yang sangat cantik..
“ibu apa ibu tinggal sendirian?”
“iya nak ibu tinggal sendirian..”
“bapak kemana bu?”
“suami ibu sudah meninggal 25 tahun yang lalu..”
“lalu di mana anak ibu?”
“anak saya …”
“maaf bu kalau saya banyak tanya.. ibu ayu makan yang banyak biar nanti lebih bersemangat kerjanya..”
“iya nak..”
Tak tega aku melihat wajahnya ketika senyumannya yang indah mulai sirna oleh tetesan air mata.. aku sengaja mengalihkan pembicaraan..
Usai makan kami langsung bergegas meninggalkan rumah.. aku dan ibu menuju tempat pembuangan sampah, aku hanya diam dan mengikuti langkahnya.. langkahnya begitu perlahan karena kaki kirinya yang tak sesempurna kakiku.. Tuhan, andai boleh dan andai Engkau mengijinkan ingin rasanya mengantikan kaki dan matanya dengan yang ku punya..
“nak kamu tunggu di situ saja, di situ ada pohon.. kamu duduk di sana dan beristirahatlah..”
“tidak bu, saya juga ingin mencari yang seperti ibu cari..”
“baiklah nak..”
“ibu apa setiap hari ibu bekerja seperti ini..”
“iya nak..”
Setelah goni yang di bawa oleh ibu penuh kami memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon.. ku lihat di dekatnya ada sebuah warung.. aku langsung berlari dan membeli beberapa minuman dan juga roti.. setelah itu aku kembali, aku membukakan bungkus roti dan minuman dan ku berikan padanya..
“ibu.. kenapa tidak mencari pekerjaan lain?”
“mana ada yang mau mempekerjakan ibu nak.. lihatlah keadaan ibu yang seperti ini..”
Aku hanya bisa diam.. membisu dan tak bersuara sedikitpun..
“ayu nak kita menjualnya..”
“iya bu..”
Kami menuju ke tempat di mana ibu biasa menjual barang yang telah beliau kumpulkan.. tak kusangka, ternyata di nilai dengan harga murah.. murah sekali, tak sebanding dengan tetesan keringat yang ibu keluarkan.. tapi beliau tak mengeluh hanya senyuman dan ucapan syukur yang dia lakukan..
“ibu harga yang ibu kumpulkan dengan susah payah tak sebanding dengan kelelahan ibu..”
“tidak apa-apa nak.. kita harus tetap bersyukur..”
Kembali aku mengikuti langkah kakinya.. akhirnya kami sampai ke rumah.. ku pandangi langit, sudah mulai sore.. aku tak ingin kembali ke rumahku, aku tak tega meninggalkan beliau sendirian.. tapi mami dan papi apalagi Erick pasti sangat khawatir denganku.. aku tak ingin memecahkan kebahagiaan ini.. aku harus bagaimana Tuhan?
“ibu.. ini foto siapa?”
Tak sengaja aku menemukan foto ibu bersama seorang bayi mungil..
“itu foto anak ibu nak..”
“foto anak ibu? lalu kemana dia sekarang bu?”
“dia pasti sudah sangat besar nak, mungkin seumuran kamu..”
“apa dia juga perempuan bu?”
“iya nak.. dia perempuan.. mungkin secantik kamu nak..”
“secantik ibu dong..”
“?”
“seperti aku yang cantik seperti ibu..” air mataku mengalir lagi tapi aku berusaha mengusapnya agar beliau tak menyadarinya kalau aku sedang menangis
“kamu secantik ibumu nak..”
Ku pandangi beliau.. andai ibu tau, aku lah anak ibu.. akulah bayi yang ada di foto itu bu.. andai ibu tau aku ingin memeluk ibu..
“ibu belum menjawab pertanyaan aku, anak ibu kemana?”
“ibu memberikannya pada orang lain yang lebih mampu nak..”
“maksud ibu, ibu …”
“iya nak, lihatlah kondisi ibu.. fisik ibu, ibu tak mau dia menderita nak.. apalagi jika nantinya dia di hina oleh orang-orang karena kekurangan dan cacatnya ibu nak.. ibu tak bisa memberikannya kehidupan yang layak nak.. 25 tahun yang lalu ibu melahirkannya di sebuah Rumah Sakit, dan ibu memberikannya pada pemilik Rumah Sakit.. sekarang dia pasti sudah besar nak, sudah tumbuh cantik dan mendapatkan hidup yang layak..”
“lalu apakah ibu pernah mencarinya? atau melihatnya saja? apa ibu tak ingin bertemu dengannya dan memeluknya.. memanjakannya dengan kasih sayang saat dia merasa kehidupan sangat kejam.. membuatnya kuat ketika masalah membuatnya terpuruk bu?”
“ibu mana nak yang tak ingin bertemu dengan anak kandungnya sendiri? ibu mana nak yang tak ingin memeluk anak kandungnya sendiri, apalagi memberikannya kasih sayang.. ibu juga ingin nak bahkan ibu juga merindukannya.. namun keadaan ibu tak mungkin nak.. ibu tak ingin kehidupannya yang bahagia hancur dengan kedatangan ibu nak.. ibu tak ingin merusak semuanya nak.. tapi ibu percaya meski ibu tak bisa melihatnya dengan mata, tak bisa memeluknya dengan hangat, tapi doa ibu akan selalu menjaganya.. Tuhan akan melindunginya nak.. Tuhan akan menjaganya..”
“ibu maafkan aku sudah membuat ibu sedih..”
aku langsung memeluknya.. pertama kali dan akhirnya impian ini tercapai, aku bisa memeluknya.. ku rasakan perlukan yang hangat.. dalam hati kecilku berkata..
‘ibu andai ibu tau, aku tak ingin kehidupan yang layak.. aku tak ingin tinggal di rumah yang mewah, makan yang enak, tidur yang nyaman.. aku hanya ingin bersama ibu.. seberapa kekurangannya pun ibu aku ingin tetap bersama ibu.. aku tak akan malu dengan keadaan ibu.. aku ingin menjaga ibu.. aku ingin dipeluk ibu saat aku takut, saat aku sedih.. dan aku ingin saat aku bahagia orang pertama yang mengetahuinya adalah ibu bukan orang lain.. ibu, jika saat ibu melahirkanku aku sudah bisa bicara, aku akan bilang aku ingin bersama ibu.. walau tak bisa bersekolah yang layak, tapi menemani ibu mencari barang bekas aku sudah bahagia bu asal bersama ibu aku bahagia bu..’
“ibu jika ibu di beri kesempatan bertemu dengan anak ibu, dan anak ibu bisa menerima kekurangan ibu.. apa ibu mau?”
“nak, ibu ingin.. ingin sekali namun ibu tak mau melukai hati seorang ibu yang membesarkannya.. beliau pasti akan sangat terpukul jika anak yang di besarkannya dengan kasih sayang kembali dengan ibu kandungnya.. kamu belum mengerti semua itu nak karena kamu belum pernah melahirkan..”
“tapi bu bagaimana kalau semuanya seperti yang aku katakan.. ibu yang membesarkannya juga bisa menerima bu?”
“beliau pasti akan tetap terluka nak.. nak kamu tau kan orang tua pasti akan sangat sedih jika tak melihat anaknya 1 hari saja.. maka itu sebaiknya kamu pulang nak.. kasihan orang tua kamu pasti cemas nak..”
“tidak bu aku tak mau pulang.. aku ingin di sini bu.. aku takut kelak jika aku datang, ibu tak ingin lagi menemuiku, ibu tak ingin lagi aku di sini seperti saat ini bu..”
“jangan berpikiran yang tidak-tidak nak.. pulanglah.. kapan saja kamu ingin ke sini, pintu rumah ibu akan terbuka nak, selalu terbuka untukmu..”
“baiklah bu.. aku akan pulang.. tapi berjanjilah ibu tak akan kemana-mana..”
“iya nak..”
Kembali kupeluk beliau.. tunggu aku kembali bu, aku akan membawa ibu bersamaku..
Ku langkahkan kakiku dan ku tinggalkan rumah kadus itu.. lambaian tangan ibu mengiringi langkahku.. sesekali aku menoleh ke belakang dan tersenyum padanya.. sabar bu, tetap di situlah dan menunggu anakmu datang menjemputmu bu.. ku percepat langkahku dan aku kembali ke penginapan, aku mengemudi mobilku, ku tancap gas dan berharap aku sampai ke rumah.. namun belum lagi sampai di perjalanan aku merasakan kepalaku sangat sakit, sakit yang luar biasa dan tak bisa lagi ku tahan.. mobilkupun menabrak pohon dan aku pun tak sadarkan diri..
4 hari kemudian
aku membukakan mataku perlahan.. terasa sakit, namun di genggaman tanganku ada tangan Erick.. ku lihat matanya yang terpancar sinar kekhawatiran yang sangat amat dalam.. aku tersenyum padanya..
“kamu jangan banyak bergerak dulu sayang..”
“Erick, maafkan aku yang pergi tanpa kabar.. maafkan aku yang membuat kamu khawatir..”
“kamu sekarang nakal.. kamu susah di bilangin..”
Ku lihat air mata Erick mengalir di wajahnya.. mungkin Erick sudah tau tentang penyakitku.. tapi aku tak ingin membuatnya sedih.. aku berusaha menghiburnya..
“Erick kamu jangan khawatir aku baik-baik saja, aku tak seperti dokter katakan.. semua akan baik-baik saja..”
Erick hanya memelukku.. andai kamu tau Rick aku tak ingin menghapus angan kita berdua.. aku ingin menikah denganmu.. menjadi orang yang penting dalam hidupmu.. membina rumah tangga bersamamu, tapi aku bisa apa.. impian itu, janji itu tak bisa aku wujudkan.. maafkan aku Rick.. maafkan semua kesalahanku..
“gimana keadaanmu nak..” kata mami ketika masuk ke ruanganku
“aku baik-baik saja mami..”
“mami akan melakukan apa saja agar kamu bisa sembuh nak..”
“mami.. serahkan semua ini pada Tuhan.. Dia yang punya Kuasa atas hidup kita.. kita berusaha dan percaya padanya, semua akan indah mami..”
“mami percaya Tuhan nak.. mami akan percaya padanya..”
“aku tak ingin melihat ada yang meneteskan air mata untukku.. aku tak ingin orang lain tak mengikhlaskanku.. aku saja ikhlas menerima ini semua.. aku harap semuanya tak pernah sedih..”
“iya nak..”
2 minggu berlalu.. namun kondisiku tak juga membaik.. segala pengobatan aku jalanin sampai dengan kemo namun tak ada hasil yang bagus.. aku tak sekuat dulu.. kita kursi roda yang menjadi kakiku.. rambut yang selama ini menjadi mahkotaku mulai berguguran.. aku ingin secepatnya pergi, aku tak ingin lagi mereka menangis setiap hatinya.. aku tak ingin mereka khawatir lagi.. aku harus mengatakan pada mami, aku ingin mami mewujudkan impian terakhirku.. aku meminta Erick membawaku jalan-jalan di sekitar Rumah Sakit..
“Rickku yang gagah, kamu harus bisa menerima semua ini.. kalau kamu sayang sama aku kamu gak boleh menangis.. jika aku pergi nanti kamu masih menangis aku akan datang ke mimpi kamu dan memarahi kamu habis-habisan, aku akan menjewer telinga kamu sampai merah seperti tomat, aku akan injek kaki kamu agar kamu sadar..”
“maafkan aku Andra yang tak bisa melakukan apa-apa..”
“kamu udah banyak melakukannya Rick.. kamu bisa menerima aku, kamu masih setia nemani aku sampai saat ini.. itu sama aja kamu melakukan banyak utukku Rick.. kamu mau bantu aku yang terakhir kalinya?”
“apa itu sayang?”
“waktu aku pergi tak ada kabar, sebenarnya aku pergi mencari ibu kandungku.. dan kamu tau, karena aku yang kuat ini.. aku menemukannya? aku ingin memberitahu pada mami secepatnya.. aku ingin ibuku juga hadir menemani aku saat terakhir aku Rick.. maukah membantuku untuk menjemput ibuku?”
“baik sayang.. kapan aku akan menjemput ibu?”
“besok sayang.. sekarang aku ingin ke ruangan mami bekerja..”
“iya sayang..”
Erick mengantarkanku ke ruangan mami dan Erick meninggalkan kami berdua..
“mami.. terima kasih telah merawatku, menjagaku, membesarkanku dengan kasih sayang yang cukup dan kehidupan yang layak.. terima kasih mami untuk setiap pelukan dan cinta mami.. mami Andra mau mami harus lebih kuat dari Andra.. kita ini hanya ciptaan Tuhan mami, setiap orang pasti akan kembali padaNya.. mami maaf sebelumnya, bukan keinginan aku untuk menyakiti hati mami.. namun sudah saatnya aku mengatakan semuanya pada mami.. aku sudah tau siapa aku mami, apa yang terjadi 25 tahun yang lalu.. aku sudah tau mami.. aku ingin di sisa waktuku ibu yang melahirkanku juga turut menjagaku mami.. maafkan aku jika melukai hati mami..”
“sebenarnya sejak awal mami ingin mengatakan hal ini nak tapi mami takut kamu shock.. bukan mami ingin memisahkan kamu dengan beliau nak.. namun mami …”
“sudahlah mami.. aku sudah tau semuanya.. izinkan aku mami..”
“iya nak, mami akan mengijinkan kamu..”
“terima kasih mami..”
Esok harinya pun Erick menjemput ibu.. Erick mengatakan apa yang terjadi padaku, bukan Erick saja yang menjemput ibu namun mami papi juga ikut.. aku bersyukur punya keluarga ini Tuhan..
“nak.. kenapa tidak dari awal kamu mengatakan yang sebenarnya..”
“ibu.. aku ingin tapi aku takut ibu yang tak mengiginkanku namun aku sudah tau semuanya.. ibu terima kasih atas waktumu ibu.. terima kasih..”
Sampai 1 minggu berlalu.. aku bahagia, semua kebenaran yang aku cari kini sudah aku dapatkan.. terima kasih Tuhan.. ibu, mami, papi dan Erick menjagaku dengan hangat.. jika sekarang waktunya, aku siap Tuhan.. tak akan pernah aku menyesali semuanya Tuhan.. terima kasih atas semua waktu yang Engkau berikan Tuhan..
Aku yang mulai sangat lemah, meminta semuanya berkumpul..
“Erick, jika aku pergi nanti aku ingin kamu tak melupakanku.. namun bukan berarti kamu tak bisa membuka pintu hati kamu untuk orang lain.. cari orang yang lebih baik dariku namun jangan yang cantik, nanti aku cemburu dari atas sana.. hhe aku bercanda kok sayang.. kamu harus jaga diri baik-baik iya.. kalau aku udah ketemu Tuhan aku akan minta padaNya agar mengirimkan kamu jodoh yang baik.. maafkan aku gak bisa menepati janjiku untuk menikah denganmu?”
“kamu gak perlu minta maaf sayang..”
“tersenyumlah Erick?”
“iya sayang”
“papi jaga kedua ibuku iya papi.. terima kasih papi udah menyayangiku.. papi jangan bekerja terlalu keras, nanti papi kelelahan.. aku juga ingin taman yang di samping papi tetap ada sampai kapanpun, karena taman itu sangat indah..”
“iya nak papi janji..”
“mami.. ibu aku ingin memeluk kalian berdua.. terima kasih atas semua yang kalian berikan padaku.. mami bolehkah ibu tinggal bersama mami.. aku tak bisa pergi dengan tenang jika kehidupan ibu masih seperti itu.. ibu mami kalian 2 wanita yang cantik, yang mulia yang pernah aku miliki.. aku sayang dan bahagia punya kalian juga keluarga ini.. biarkan aku pergi dan antar aku dengan senyuman iya ibu, mami, Erick dan papi.. i Love u all”
Ku tutup mataku, dan tak akan mungkin bisa aku buka lagi.. jaga keluargaku Tuhan.. lindungin setiap langkah mereka.. ampuni dosa mereka Tuhan.. biar nanti aku saja yang menanggungnya, terima kasih telah memberikanku keluarga ini Tuhan.. aku siap Tuhan, hari ini aku akan kembali padaMu.. meski belum sampai 4 bulan seperti perkiraan dokter, namun aku telah siap Tuhan.. Puji Tuhan
Cerpen Karangan: Zee Choco